Cah nDeso dan Wong nDeso

“Cah” merupakan singkatan dari kata bocah adalah bahasa jawa yang berarti anak, dan kata “ndeso” atau lebih suka diplesetkan dengan istilah “ndesit” yang artinya kuno, jorok dan lain lain yang tidak enak didengar.  “nDeso” sendiri berasal dari kata deso yang artinya kampung pendalaman yang jauh dari budaya kota.  Penambahan huruf “n” punya maksud tertentu, arti ini bisa ditangkap sebagai sifat atau sikap, hanya penekanan intonasi suara tentang kata “cah ndeso” ini akan mempunyai arah tersendiri. Kemudian kata “wong”  yang artinya manusia, masyarakat atau personal.  Jadi “cah ndeso” atau anak desa adalah anak dari atau boleh dikatakan bagian dari “wong ndeso” atau masyarakat desa.

Persepsi tentang “cah ndeso” atau “wong ndeso” itu jorok, kuno dan lain-lain bagi saya tidak begitu bermasalah. Kan hal itu hanya sebatas kata-kata emosional sesaat. Meskipun menurut KUHP hal tersebut bisa dipidanakan, karena melanggar pasal 335 ayat 1 tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Hidup memang keras, tapi hidup sederhana dianggap ‘wong ndeso’, kampungan, udik, tak tahu malu, nggak ngerti, blo’on dan sejuta seribu satu sampah tak jelas kemana arahnya, hla wong dua kata itu hanya dibuat untuk mengejek seseorang, yang jelas yang diejek tentu bukan orang desa tapi justru orang kota. Hla kenapa orang desa nggak pernah ngejek warganya dengan istilah : wong kuthaan alias orang sok kotaan. Tapi… yo wislah… tidak usah dipermasalahkan. Becik ketitik, ala ketara, siapa pun yang berbuat kebajikan akan mendapatkan balasan, demikian pula yang mempunyai niat dan berbuat buruk pasti akan mendapatkan balasan.

Menurut Pak Yohan Kusmintoro, seorang pakar lingkungan dalam website-nya, http://www.egmca.net/, beliau menjelaskan bahwa menjadi orang ndeso bukan merupakan aib, menjadi wong ndeso adalah kembali menjadi manusia, kita semua asalnya memang wong ndeso, Pak SBY contohnya, beliau juga wong ndeso, bapaknya wong ndeso, ibunya wong ndeso, mbahnya wong ndeso, namun menjadi presiden. Coba anda tanyakan bapak, ibu atau kakek nenek buyut anda, dari mana asalnya, saya yakin rata-rata jawabnya  : soko ndeso nak, namun tak sedikit yang malu mengaku demikian seperti yang sering saya dengar, alasannya sih sudah trauma dengan istilah wong ndeso, ada banyak pula yang bangga menyebut wong ndeso, menjadi wong ndeso adalah sebuah impian, jauh dari hingar bingar kesumpekan kota, berpacu dengan waktu, macet, polusi, dan tetek bengek lain yang memusingkan kepala.

Wong deso adalah sederhana, apa adanya, nrimo ing pandum, bukan dalam arti jorok yang selama ini disalahkaprahkan, membuang sampah sembarangan jika ditengah kota akan dicap sebagai wong ndeso, padahal wong ndeso nggak pernah buang sampah sembarangan. Lha kok wong ndeso yang disalahkan. Bahkan ketika anda tidak tahu apa-apa masih dicap pula menjadi wong ndeso… heheheheehe…. Tapi, ya ndak papa. Hla wong cuman dikatain doang koq, yang penting ndak gontok-gontokan, ndak padudon (perang mulut/urat saraf). Seperti para pejabat yang terus gontok-gontokan, padudon, rebutan kursi dan reputasi agar dirinya tetap dihormati. Hla.. terus kapan memikirkan rakyat??? Halah.. hla koq malah nglantur….. Dasar cah ndeso…!!! Hahahahaha……