Category: Spiritual



baby

Amsi Zawjane

Berbicara tentang manusia dan agama –dalam hal ini Islam– adalah membicarakan sesuatu yang sangat klasik namun senantiasa aktual. Berbicara tentang kedua hal tersebut sama saja dengan berbicara tentang kita sendiri dan keyakinan asasi kita sebagai makhluk Tuhan. Dikatakan klasik, karena kedua tema ini telah begitu ‘tua’ untuk dibacarakan, dan dikatakan aktual karena kedua tema tersebut begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Sejumlah pertanyaan pun muncul ketika kedua tema tersebut diangkat, misalnya saja, apakah hakekat dari manusia dan agama itu sendiri? Bagaimanakah hubungan antara manusia dan agama? Seberapa besar pengaruh agama terhadap kehidupan manusia? Bagaimanakah manusia harus beragama? Apa fungsi manusia di muka bumi ini? Dan serangkaian pertanyaan lainnya yang akan muncul ketika kita berbicara seputar kedua tema tersebut. Terlebih dahulu, tentunya kita harus mengetahui dulu apa itu manusia dan apa itu agama?

Baca lebih lanjut

Iklan

Fokus-2Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali.Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyanghan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak bicara.'”

“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,” demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi digendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”

Baca lebih lanjut


“Bila Kita Ingin Melihat Sesuatu Secara Utuh, Maka Lihatlah Sesuatu itu dari Berbagai Sisi dan Sudut pandang”

Mungkin kita pernah memperhatikan seorang arsitek-perancang bangunan ketika ia selesai mengerjakan sesuatu yang katakan dianggap sebagai sebuah ‘maha karya’ nya misal sebuah ‘rancangan gedung bertingkat yang unik’ karena gaya arsitekturnya yang khas,nah untuk menilai hasil karyanya itu secara utuh dan menyeluruh maka ia akan melihatnya dari berbagi sisi dan sudut pandang : ia akan melihatnya dari muka sehingga terlihat tampak muka, ia akan melihatnya dari sisi kiri sehingga terlihat tampak sisi kiri, ia akan melihatnya dari sisi kanan sehingga terlihat tampak sisi kanan. Mengapa ia berusaha untuk melihatnya dari berbagai sisi dan sudut pandang (?) Tentu ia ingin melihat gambaran yang utuh-menyeluruh dan menyatu agar bisa  menilai keindahan ‘maha karya’nya itu.
Baca lebih lanjut


Rahasia Serat Sastra Jendrahayuningrat Pangruwating Diyu.
Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.
Baca lebih lanjut

Ceng Zamzam. Mungkin nama itu tidaklah asing lagi didengar, apalagi di kalangan para santriwan-santriwati muda. Mulai dari anak bawang, orang tua, dan terutama gadis-gadis yang mengaku sebagai pecinta sholawat, tentu tahu sosok Ceng Zamzam ini.

Anak laki-laki yang mempunyai nama lengkap Ahmad Zamzam Zaenal Muttaqin ini, ternyata sudah punya gelar  “H” di depan namanya. Hebat ya? Diusianya yang katakan saja, masih muda―15 tahun―dia sudah mampu menyempurnakan rukun islam yang kelima. Tak salah jika fans-fansnya, termasuk saya bila memberikan acungan jempol buatnya.

Baca lebih lanjut


Alhamdulillah wa syukurillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah pernah ditanyakan,

“Wahai Syaikh yang mulia, ada sebuah minuman yang dinamakan Coca-Cola yaitu minuman produk perusahaan Yahudi. Apa hukum meminum minuman ini dan apa hukum menjualnya? Apakah kalau menjualnya termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan?”

Syaikh rahimahullah menjawab,

“Apakah tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi untuk keluarganya, lalu tatkala beliau meninggal dunia, baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi tersebut?

Apakah juga tidak sampai padamu hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerima hadiah dari seorang Yahudi.

Baca lebih lanjut

HAKEKAT MUDIK


Idul Fitri atau Lebaran adalah momen tahunan yang memiliki nilai tidak hanya dari sisi religius, namun juga dari sisi sosial, dan juga budaya. Salah satu fenomena menarik di hari lebaran adalah tradisi mudik.

Mudik berasal dari bahasa Betawi “udik”, yang artinya adalah kampung/desa. Penggunaan kata ini dimulai, dikarenakan pada saat itu begitu banyaknya orang-orang dari Jawa (suku Jawa) yang pergi mencari nafkah ke Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Jawa dan akhirnya menetap di Ibukota kita itu. Ketika memasuki hari lebaran, para pendatang itu akan kembali ke kampung halamannya untuk bertemu dengan keluarga (sekaligus menceritakan betapa “makmurnya” Jakarta)

Baca lebih lanjut

ZAKAT YANG MENGHINAKAN


Orang-orang miskin antri dalam sebuah pembagian zakat. (republika.co.id)

Orang-orang miskin antri dalam sebuah pembagian zakat. (republika.co.id)

Dua pekan jelang Idul Fitri adalah waktunya umat muslim membayar zakat fitrah kepada orang fakir dan miskin. Biasanya, di masjid-masjid dan mushala-musahala mulai dibentuk panitia amil zakat yang bertugas menghimpun pembayaran zakat dari masyarakat, baik berupa beras atau uang tunai, untuk kemudian disalurkan kepada kalangan yang berhak.

Selain membayar melalui amil, zakat fitrah kadang langsung diberikan kepada orangnya, tanpa perantara amil. Saya sendiri, karena punya tetangga yang tergolong miskin, langsung memberikan zakat kepada tetangga saya itu.

Baca lebih lanjut


Ada sebuah perumpamaan tentang ibadah puasa yang kita laksanakan dengan puasa yang dilaksanakan oleh seekor ulat dan seekor ular. Tentu saja dimensi ibadahnya berbeda, namun kita dapat memetik hikmah dari perumpamaannya tersebut .

Alkisah  Ulat adalah hewan yang kecil, kebermanfaatnya nyaris tidak banyak. Selain rakus, ulat juga menjadi musuh para petani, mungkin kalau bukan salah satu bagian dari rantai makanan, rasanya ulat ini hanyalah mahluk pengganggu saja. Dari ketamakannya itu, sang ulatpun merenungi diri. Kemudian iapun berpuasa yang dalam bahasa ilmiahnya disebut hibernasi. Ia menutup diri dalam kepompong, merenungi apa yang selama ini telah ia perbuat. Selama duapuluh satu hari hibernasi cintanya dalam kepompong itu, iapun berubah. Dari mahluk yang menggelikan, tamak dan merusak, tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Sayapnya memberi warna pada hari, dan perilakunya berubah menjadi sosok yang santun, sedap dipandang  dan senang menyambungkan silaturahim pada bunga yang satu dengan bunga yang lainya. Sehingga keberadaanya menjadi sangat diharapkan dan bermanfaat.

Baca lebih lanjut

HIKAYAT KOPI


Seorang pria Arab bernama Khalid sedang menggembalakan kambing di wilayah Kaffa, selatan Ethiopia. Dia memperhatikan kambingnya menjadi terlihat lebih bergairah dan bersemangat setelah memakan buahbuahan kecil, seperti beri yang berwarna gelap. Rasa penasaran membuatnya memetik dan membawa pulang buah-buahan yang dimakan sang kambing.

Sesampai di rumah, dimasaklah buah-buahan yang ternyata mengandung biji yang cukup besar itu. Khalid telah membuat minuman kopi pertama dari buah yang awalnya disebut bun itu. Sejak itu, biji kopi diekspor dari Ethiopia ke Yaman pada abad ke-10. Hingga akhir abad ke-15, kopi telah mencapai Makkah dan Turki, baru kemudian bisa dinikmati masyarakat Mesir.

Baca lebih lanjut