Idul Fitri atau Lebaran adalah momen tahunan yang memiliki nilai tidak hanya dari sisi religius, namun juga dari sisi sosial, dan juga budaya. Salah satu fenomena menarik di hari lebaran adalah tradisi mudik.

Mudik berasal dari bahasa Betawi “udik”, yang artinya adalah kampung/desa. Penggunaan kata ini dimulai, dikarenakan pada saat itu begitu banyaknya orang-orang dari Jawa (suku Jawa) yang pergi mencari nafkah ke Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah di pulau Jawa dan akhirnya menetap di Ibukota kita itu. Ketika memasuki hari lebaran, para pendatang itu akan kembali ke kampung halamannya untuk bertemu dengan keluarga (sekaligus menceritakan betapa “makmurnya” Jakarta)

Secara filosofi, kata udik juga berarti hulu sungai, dimana semua aliran air (sumber kehidupan) berawal. Jadi, memang ada kalanya seseorang harus kembali ke daerah asal, sebagai tanda penghargaan dan rasa syukur atas tanah kelahirannya. Ironinya, belakangan, kata udik sering dipakai sebagai bahan ejekan kepada orang-orang kampung yang baru melihat Jakarta. Ada-ada saja. (http://annida-online.com/artikel-3852-remaja-pun-wajib-tahu-asal-usul-kata-mudik.html)

Mudik, bisa  dibilang merupakan sebuah gerakan nasional (meskipun belum ada yang secara resmi mendeklarasikan gerakan ini) semua orang  urban untuk kembali ke kampung halamannya. Tradisi ini, bak warisan yang telah turun temurun dari generasi ke generasi dilaksanakan. Mereka rela berdesak-desakan, berdiri di kereta bahkan menempati dan tidur WC kereta api (pengalaman pribadi penulis). Suatu hal yang secara nalar mungkin tidak akan pernah dilakukan. Semua itu untuk mencapai harapan agar bisa berlebaran di kampung halaman, bertemu sanak famili, tetangga bahkan kawan-kawan lama.

Fenomena mudik dari tahun ke tahun memang tidak banyak berubah. Hanya saja selain dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi seringkali tidak bisa dihindari munculnya penciptaan symbol status untuk meningkatkan status/strata. Misalnya untuk mudik biar dilihat lebih sukses di perantauan kemudian harus menyewa (rental) mobil. Padahal sebenarnya hal itu sedikit dipaksakan dengan kondisi ekonomi yang dimiliki.

Penciptaan symbol status untuk meningkatkan strata sosial di mata keluarga atau masyarakat di kampung halaman inilah yang kadang bisa ‘merusak’ makna atau hakikat mudik. Penciptaan symbol status saat ini beragam bukan saja berbentuk kendaraan seperti motor atau mobil, bisa berupa perhiasan atau yang sekarang trend khan seperti HP, Black Berry atau alat-alat elektronik lainnya.

Apapun fenomena yang muncul setiap kali mudik datang sebaiknya memang bukan semata-mata diartikan sebagai mudik biologis saja seperti mengobati rasa kangen dan rindu pada sanak keluarga. Padahal esensi Idul Fitri yang sesungguhnya adalah untuk menjadikannya sebagai momentum “mudik spiritual”, yakni kembali ke kampung halaman rohani yang fitri dan suci. Ini tentunya sejalan dengan makna Idul Fitri yang hakiki.

‘Id berasal dari bahasa Arab dari akar kata ‘aada, yang berarti kembali. Sedangkan fitri bermakna “fitrah atau asal kejadian yang masih suci dan murni”. Karenanya Idul Fitri itu artinya “kembali (mudik) ke asal kejadian (ruhaniah yang masih fitri dan suci)”. Pasalnya, manusia itu memang terlahir dengan fitrah yang suci.

Bagi saya, mudik lebih saya maknai sebagai perjalanan pulang yang paling hakiki terhadap kehidupan sebelum mudik ke kampung akhirat. Pulang mudik ibarat menengok ke belakang, seberapa jauh kita melangkah pergi. Seberapa jauh pencapaian kita mencari “sangkan paraning dumadi” dalam hidup kita ini.

Rumah adalah titik nol untuk berproses, dan kembali ke titik nol adalah wujud kesadaran sebagai manusia. Rumah dan kampung halaman adalah simbol yang berarti tempat dimana kita sadar akan hakikat siapa diri kita sebenarnya.

“Siapakah kita? Dari mana kita datang? Kemana kita pergi, apa tujuan kita datang dan tinggal sebentar di sini? Di manakah kebahagiaan dan kesedihan kita yang sebenarnya berada?”

Makna mudik secara spiritual ternyata dapat ditemukan dalam Alquran. Tentu saja, pengertian mudik yang dimaksudkan adalah makna metaforis. Tradisi mudik dalam Alquran dapat diartikan dengan kembali kepada ampunan Allah. Dalam hal ini, Allah berfirman; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Ali Imran/133).

Firman Allah tersebut berbicara mengenai perintah agar kita segera “mudik” dengan cara kembali kepada ampunan Tuhan. Karena hanya dengan cara inilah kita akan memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan berupa ridlo dan surga yang memang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Jika dalam tradisi mudik Lebaran kita harus mempersiapkan bekal yang begitu banyak, maka untuk kembali kepada Allah jelas dibutuhkan bekal yang lebih. Derajat ketaqwaan sebagai hasil ibadah puasa dapat merupakan bekal yang sangat berharga untuk kembali kepada Allah.

Wallaahu ‘alam bishawaab..

*)disarikan dari berbagai sumber