Ada sebuah perumpamaan tentang ibadah puasa yang kita laksanakan dengan puasa yang dilaksanakan oleh seekor ulat dan seekor ular. Tentu saja dimensi ibadahnya berbeda, namun kita dapat memetik hikmah dari perumpamaannya tersebut .

Alkisah  Ulat adalah hewan yang kecil, kebermanfaatnya nyaris tidak banyak. Selain rakus, ulat juga menjadi musuh para petani, mungkin kalau bukan salah satu bagian dari rantai makanan, rasanya ulat ini hanyalah mahluk pengganggu saja. Dari ketamakannya itu, sang ulatpun merenungi diri. Kemudian iapun berpuasa yang dalam bahasa ilmiahnya disebut hibernasi. Ia menutup diri dalam kepompong, merenungi apa yang selama ini telah ia perbuat. Selama duapuluh satu hari hibernasi cintanya dalam kepompong itu, iapun berubah. Dari mahluk yang menggelikan, tamak dan merusak, tumbuh menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Sayapnya memberi warna pada hari, dan perilakunya berubah menjadi sosok yang santun, sedap dipandang  dan senang menyambungkan silaturahim pada bunga yang satu dengan bunga yang lainya. Sehingga keberadaanya menjadi sangat diharapkan dan bermanfaat.

Lain halnya dengan Ular. Sosok ular yang menakutkan dan beringas, menasbihkan perilakunya sama seperti rupanya tersebut. Suatu ketika, sang ularpun berpuasa (baca. hibernasi). Perilakunya berubah seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya sangar, tiba-tiba menjadi lembut, yang tadinya beringas berubah menjadi lemas. Bahkan kalaupun ada yang mengganggunya, ia memilih pergi daripada meladeni. Namun puasa atau hibernasinya tak mampu mengubah perilaku ular menjadi santun selamanya. Maka ketika ia keluar dari masa puasanya itu dengan wujud yang baru, iapun kembali kesifat semula, bahkan lebih beringas dari sebelumnya. Apapun yang ia temukan langsung saja ia sergap, tak peduli apa yang ia renungkan selama hibernasinya lalu. Sehingga keberadaannyapun sering kali dihindari.

Nah dari perumpamaan tersebut, Ramadhan dengan ibadah puasa di dalamnya, merupakan masa-masa perenungan atau hibernasi bagi manusia. Ramadhan inilah yang harus kita insyafi sebagai momentum untuk melakukan perubahan, menjadi peribadi yang lebih baik. Bukankah Puasa itu adalah sarana atau jembatan bagi manusia yang beriman untuk meningkatkan derajatnya menjadi umat yang taqwa. Begitulah hikmah yang bisa kita petik dari kehidupan mahluk allah selain manusia, sebagai cermin untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari segi personal, sosial dan spiritual. Semoga di bulan yang penuh rahmat dan magfiroh ini, Allah mengampuni dosa kita semua dan menerima setiap amal ibadah yang kita kerjakan.

*)sumber: http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2012/07/30/hibernasi-cinta-ramadhan/