Akhir-akhir ini kita sering mendengar kalimat “Orang Islam Harus kaya”.  Kalimat ini bukanlah sesuatu yang tabu.  Rasuulullah saw telah memberi rambu-rambu, “Bekerjalah kalian seakan-akan kalian hidup seribu tahun lagi dan beribadahlah kalian seakan-akan besok pagi akan mati”.  Di balik hadits tersebut tersirat sebuah pesan bahwa orang Islam harus mampu, bahkan kaya dan menjadi terdepan dalam perekonomian global.  Artinya Rasuulullah saw tidak menghendaki umatnya miskin dan dilindas oleh keadaan. Dalam kesempatan lain pun Beliau menerangkan “kekafiran lebih dekat kepada kekafiran”.

Hidup Harus Kaya

Maukah Anda hidup kaya? Jawabannya pasti, mau.

Mengapa harus kaya?

Ini sangat mudah dijelaskan. Pertama, Hakikat sebagai manusia adalah senang mendapat kemudahan dalam hidupnya, terutama materi. Sehingga Rasulullah saw pun bersabda, “Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan kejurang kekafiran.” Kenapa? Silakan kita semua lihat dan merefleksikan berbagai fenomena pemurtadan, hanya karena ingin mendapat sebuah mie instan! Ya, sehingga dengan kaya, kita bisa terus menjaga akidah dan menjadi muslim dermawan.

Kedua, bayangkanlah ketika kita sebagai muslim hidup dalam kekurangan. Ketika istri kita tak dapat membeli makan malam, anak menangis minta dibelikan susu, atau tagihan SPP sekolah yang nunggak, dan kita sendiri kelaparan. Khusyukkah shalat kita? Saya yakin, yang ada kepala pusing, bahkan mungkin bisa jadi kita tidak mau melaksanakan shalat. Karena su’udzon kepada Allah swt. Dianggap Allah tidak adil. Kenapa si Anu diberi rejeki melimpah, bak mata air yang tak pernah kering, bahkan menjadi kali atau sungai. Semoga kita tidak ada rasa demikian, na’uu dzubillahi min dzalik.

 

Ketiga, masalah dakwah. Dengan kekayaan kita akan bisa mengulurkan tangan dan bisa membantu lebih banyak. Kita akan leluasa bersedekah dan melakukan aktivitas sosial semisal mengentaskan kemiskinan, menyantuni anak yatim, mendirikan panti-panti, rumah sakit, menyumbang pembangunan masjid, sarana pendidikan dan aktivitas dakwah lainnya.

Keempat, masalah puasa. Ketika hidup dalam keadaan yang susah, maka puasa kita seolah-olah hanyalah sebagai rutinitas hidup dan bukan diniatkan untuk ibadah. Biasa lapar, maka tidak makan seharian pun sudah biasa. Maka ditakutkan kalau umat Islam berkekurangan, melaksanakan puasa itu  hanya sebagai kebiasaan sehari-hari untuk menahan lapar dan dahaga karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Kelima, masalah zakat dan sedekah. Jelas, kita tidak bisa melaksanakan zakat, terutama zakat mal kalau kita tidak kaya? Padahal keutamaan berzakat termasuk keutamaan yang besar. Zakat dijanjikan Allah mampu menghapuskan dosa dan menyucikan diri kita.

Keenam, naik haji. Bagaimana mungkin naik haji kalau untuk hidup sehari-hari sulit? Untuk kita jama’ah Indonesia, saat ini biaya ongkos naik haji perlu diperhitungkan, karena cukup memakan biaya.

Enam hal di atas hanya sebagian kecil dari alasan mengapa sebagai umat Islam, kita harus kaya.

 

Zuhud

Ada pertanyaan, apakah Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah itu seorang yang kaya raya? Apakah para sahabat juga demikian? Bukankah agama kita menganjurkan untuk zuhud, menghindari dunia? Bukankah Rasulullah saw sering tidur hanya berlaskan pelepah kurma, bahkan perutnya sering diganjal dengan batu untuk menahan lapar? Khalifah Umbar ibnu Khatab juga demikian, tidurnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang.

Juga diterangkan di dalam Al-Surah Al-Hadid : 20

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

 

Bukankah ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, batil, dan sekadar permainan belaka? Dan masih banyak lagi ayat al-Qur’an maupun hadits yang menjelaskan untuk menghindari keduniawian.

Untuk mengurai permasalahan di atas, maka mari kita mengkaji bersama dan mari kita mulai dari Pengertian Zuhud.

 

Tidak ada istilah dalam al-Quran yang menyatakan bahwa manusia harus bersikap zuhud. Istilah tersebut hanya terdapat dalam hadis Nabi dan ucapan para imam suci. Kendati tidak diragukan lagi bahwa inti pengertian dari zuhud juga terkandung dalam al-Quran. Namun, secara khusus, pengertian zuhud banyak disampaikan dalam berbagai ucapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kwj. Istilah zuhud telah sangat populer di kalangan kita.

Julukan zuhud acapkali dinisbahkan kepada banyak individu secara sembarangan. Kadangkala, seseorang mengatakan bahwa si fulan adalah orang yang sangat zuhud. Namun, pada saat kita telusuri orang tersebut, akan nampak kenyataan bahwa ia hanya menjalani kezuhudan secara negatif. Artinya, ia berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan yang berbau dunia, meningalkan pekerjaan dengan dalih ibadah.

 

Makna Zuhud secara bahasa:

Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.

Makna Zuhud secara istilah:

Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri, seorang tabi’in yang sangat terkenal kezuhudannya menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang  bisa dikatakan zuhud bila tiga perkara ini ada dalam dirinya:

  1. Apa yang ada di sisi Allah lebih dia percayai daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah.
  2. Apabila terkena musibah, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan ridha Allah  daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.
  3. Baginya orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran adalah sama saja. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.

Jadi, tanda zuhud adalah tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan, kemuliaan dan kehinaan, pujian dan celaan karena adanya dominasi kedekatan kepada Allah.

Maka hakekat zuhud itu berada di dalam hati, pekerjaan hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Lahiriyahnya pekerja keras, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.  Setiap hari, pergi subuh, pulang jam 10 bahkan jam 12 malam, misalnya. Tetapi ia tetap ingat akan panggilan Allah. Hatinya halus, mudah tersentuh dan segera berempati bila melihat orang susah. Maka Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya.

Laman: 1 2