Cerpen SN Ratmana

KEMATIAN Pak Kardi diikuti kegemparan yang luarbiasa karena tiba-tiba dia dinobatkan sebagai wali. Padahal semula orang menilai Pak Kardi sebagai manusia biasa dan kematiannya pun tidak terlalu istimewa. Almarhum meninggal akibat kecelakaan lalu-lintas. Akan tetapi pidato Haji Harun, salah seorang pengurus masjid Al-Hilal, pada upacara pemakaman telah mengubah pandangan itu. Sungguh pun dia tidak menyebut kata wali, tetapi orang dengan cepat menarik kesimpulan bahwa almarhum tergolong manusia istimewa, seorang wali. Akibatnya, mulai keesokan harinya berbondong-bondong datang peziarah ke kubur Pak Kardi. Cerita misteri akhir hayat almarhum seperti yang dituturkan oleh Haji Harun dengan cepat sekali menyebar dan membuat orang terkagum-kagum.

Orang-orang yang datang berziarah umumnya duduk bersimpuh mengelilingi makam sambil menunduk, mengucapkan doa-doa atau membaca ayat-ayat suci. Ada yang menghadapi gundukan tanah itu cukup beberapa menit saja, tetapi ada juga yang sampai berjam-jam lamanya. Hal itu tergantung sejauh mana diri si peziarah dalam “berdialog” dengan almarhum.

Memang tidak pernah terjadi percakapan antara peziarah dengan roh almarhum, tetapi ada di antara mereka yang larut dalam lautan sifat-sifat almarhum yang terpuji. Seorang tetangga almarhum sempat tersedu-sedu ketika berziarah. Sesudah bangkit dan meninggalkan makam, di hadapan banyak orang yang menunggu giliran untuk mendekati makam, dia menjelaskan mengapa sampai dirinya menangis.

“Kita semua bersalah. Kita semua berdosa!” katanya sambil mengusap pipinya yang basah. “Orang sebaik beliau, semasa hidupnya, tidak pernah kita hargai dan hormati. Bayangkan, beliau tidak pernah kita pilih jadi pemimpin. Bahkan jadi Ketua RT pun beliau belum pernah. Padahal mana ada pemimpin yang sejujur beliau? Mana ada pemimpin yang memiliki rasa tanggungjawab sebaik beliau?”

“Aku yakin sepenuhnya pada kebenaran pidato Haji Harun” kata peziarah lain yang sering bergabung solat di masjid Al-Hilal. “Mungkin saja ada imam yang sefasih Pak Kardi dalam mengucapkan ayat-ayat suci, tetapi mencari imam yang memegang teguh disiplin seketat beliau kurasa sangat sukar. Kita benar-benar kehilangan seorang imam yang luarbiasa”

Kata-kata yang senada juga diucapkan oleh peziarah-peziarah lain yang mengenal almarhum cukup dekat. Membayang dalam ingatan mereka sifat Pak Kardi yang pendiam, teguh pada pendirian, tinggi rasa solidaritasnya terhadap kawan serta sifat-sifat mulia lainnya. Sedangkan orang-orang yang belum mengenal almarhum datang berziarah untuk memuliakan seorang yang saleh, yang taat beribadat.

Sampai sejauh itu keluarga almarhum tidak memberi reaksi apa-apa. Sebaliknya perusahaan ekspedisi tempat almarhum dulu bekerja, merasa terpanggil untuk ikut mengimbangi sikap masyarakat tersebut dengan jalan merencanakan pemugaran makam pada hari ke-40 wafatnya almarhum. Ternyata pihak keluarga menentang keras niat baik perusahaan itu.

“Maksud Anda menghormati almarhum dapat kami terima,” kata anak sulung Pak Kardi, “tapi cara yang Anda pilih tidak kami benarkan. Biarkan kubur itu berupa tanah biasa dengan hiasan sepasang nisan di ujung-ujungnya. Kami yakin hiasan amal-ibadah almarhum jauh lebih indah daripada wujud bangunan apa pun. Jadi Anda tidak perlu memugar kubur ayah saya!”

Tidak cukup berhenti sampai di situ. Istri dan anak sulung Pak Kardi mendatangi rumah Haji Harun. Mereka tahu sumber pemuliaan kubur almarhum adalah pidato Haji Harun pada upacara pemakaman yang lalu. Mereka menuntut agar Haji Harun mencabut kembali pidatonya, supaya masyarakat tidak lagi mengagung-agungkan kubur Pak Kardi.

“Asal tidak ada orang yang memuja kubur itu sebagai pembawa berkah, saya rasa tidak ada yang perlu dirisaukan” jawab Haji Harun menanggapi tuntutan tamunya.

“Tapi Bapak telah membuka pintu ke arah itu” kata anak sulung Pak Kardi.

“Jangan Bapak lupakan, perbuatan syirik bisa terjadi secara bertahap” kata Bu Kardi. “Kami tidak ingin perbuatan syirik justru bersumber pada kubur suami saya”.

Tidak ada titik temu antara Haji Harun dengan keluarga Pak Kardi. Hanya ada kesepakatan bahwa warga masjid Al-Hilal perlu dikumpulkan untuk mendapatkan informasi dari kedua belah pihak. Seminggu kemudian, sehabis solat Isya, di masjid, diselenggarakan pertemuan yang bergaya diskusi dengan menggunakan moderator segala. Di luar dugaan pengunjung sangat banyak, sehingga tidak semuanya bisa ditampung di dalam masjid.

Seorang pemuda yang dikenal sebagai aktivis masjid bertindak sebagai moderator. Keluarga Pak Kardi diwakili oleh istri dan anak sulungnya, sedangkan Haji Harun didampingi oleh Pak Mubin. Lebih dulu moderator menjelaskan tujuan pertemuan, yakni tercapainya saling pengertian tentang peristiwa yang terjadi pada Subuh dini hari tanggal 21 September yang lalu, hari kematian Pak Kardi. Yang paling awal diberi kesempatan berbicara adalah Bu Kardi.

“Meskipun saya masih dalam masa idah, tetapi saya perlukan hadir di sini untuk menuturkan duduk persoalan yang sebenarnya,” kata wanita lima puluh tahun itu mengawali pembicaraannya. “Demi Allah, apa yang akan saya tuturkan sepenuhnya nyata, bukan rekayasa. Tanggal 20 September yang lalu, pagi-pagi, suami saya pergi ke kota Tengah menjalankan tugas perusahaan dengan mobil. Dia ditemani seorang sopir dan dua kawan sekantor, masing-masing Pak Ahmad dan Pak Warto. Urusan diperkirakan selesai pada sore hari, sehingga diharapkan paling lambat setengah malam sudah bisa sampai ke rumah kembali. Ternyata urusan baru selesai tengah malam. Pak Ahmad dan Pak Warto menyarankan agar menginap saja, esok paginya baru pulang. Suami saya tidak mau karena sudah janji pada Pak Haji Harun tanggal 21 September siap jadi imam solat Subuh di masjid ini. Kebetulan sopir pun punya keperluan yang harus segera diselesaikan di kota ini. Jadi mereka berempat memutuskan pulang pada malam itu juga. Perjalanan tergolong lancar, sampai…”

Wanita itu berhenti bicara karena menahan emosinya.

“Sam… sampai kira-kira lima kilometer menjelang masuk ke kota ini. Mobil suami saya di… ditabrak bus malam yang ngebut. Bagian depan mobil han… hancur. Sopir, dan suami saya yang duduk di sampingnya, me… meninggal seketika. Itu terjadi pada pukul empat pagi, setengah jam sebelum Subuh. Jadi tidak mungkin dia mengimami solat Subuh di masjid ini. Jenazahnya dikirim ke rumahsakit. Kalau saudara-saudara kurang yakin, tanyakan pada Pak Ahmad dan Pak Warto yang selamat dalam musibah itu. Malam ini keduanya kami ajak ke mari. Saya persilakan Pak Ahmad dan Pak Warto untuk berdiri.”

Kedua laki-laki kawan sekantor almarhum pun berdiri. Seketika keduanya jadi fokus perhatian hadirin.
“Itulah yang terjadi pada menjelang Subuh tanggal 21 September yang lalu.”

Bu Kardi turun dari mimbar masih mengusap airmata dengan ujung kerudungnya. Kemudian moderator mempersilakan Haji Harun berbicara. Ternyata bicaranya singkat sekali.

“Saudara-saudara, tidak ada kata-kata Bu Kardi yang perlu saya bantah. Selanjutnya saya persilakan saja Pak Mubin menuturkan apa yang terjadi di masjid ini pada Subuh tanggal 21 September yang lalu,” katanya sambil turun dari mimbar.

Pak Mubin yang berpenampilan sederhana menuju ke mimbar dengan berdebar karena tidak biasa berpidato di muka umum.

“Jamaah solat Subuh waktu itu diikuti oleh dua puluh lima laki-laki, termasuk saya dan Pak Haji Harun, masih ditambah ibu-ibu di belakang sana. Saya dan Pak Haji Harun bersebelahan, tepat berdiri di belakang imam. Kami semua yakin yang jadi imam pada waktu itu ya Bapak Sukardi atau Pak Kardi. Kenapa saya yakin? Karena sayalah yang mengumandangkan adzan dan juga iqomah, tahu persis siapa yang melangkah ke pengimaman. Waktu itu Pak Kardi memakai baju takwo warna putih, sarung latar putih dan peci haji juga warna putih. Pendeknya serba putih. Saya juga masih ingat surat apa yang dibaca oleh almarhum pada rakaat pertama maupun kedua. Beliau mengucapkan surat Luqman yang tidak ada jamaah lain di masjid ini yang bisa menghafalnya. Begitu sajalah ucapan saya. Apakah kesaksian saya ini salah, Bapak-bapak?” tanyanya ke arah sekelompok hadirin.

“Tidaaakkk!!!” jawab kelompok itu serentak.

Ketika Pak Mubin turun dari mimbar hadirin gaduh. Mereka bercapak satu sama lain. Moderator meminta hadirin untuk tenang. Lalu anak muda itu mempersilakan hadirin untuk menanggapi kedua pembicara tadi. Dua orang nampak mengacungkan tangan. Salah seorang di antara mereka adalah anak sulung Pak Kardi. Oleh moderator dia dipersilakan berbicara.

“Saya bertambah yakin bahwa yang jadi imam pada solat Subuh waktu itu bukan ayah saya,” katanya dengan tegas. Kata “bukan” diucapkannya dengan penekanan yang kuat sekali. Spontan terjadi reaksi dari hadirin. Dia tahu reaksi itu, sehingga cepat-cepat dia berkata:

“Saya mohon perhatian, tenanglah. Saya yakin imam itu bukan ayah saya, sebab ayah saya tidak punya sarung latar putih, apalagi peci haji. Kedua jenis pakaian itu tidak dimiliki oleh ayah saya. Kesimpulan saya, Pak Mubin salah lihat. Ya maklum, hari masih terlalu pagi…”

“Tidaaakkk!!” pekik beberapa orang serentak.

Tanpa melalui moderator seorang pengunjung langsung berbicara keras-keras:

“Kami sudah sangat mengenal suara dan irama bacaan Al-Quran Pak Kardi. Kami yakin beliaulah yang jadi imam kami pada Subuh itu.”

Untuk kedua kalinya suasana jadi gaduh. Hampir semua orang melontarkan reaksi. Anak Pak Kardi pun duduk kembali. Orang yang sejak tadi meminta waktu untuk berbicara mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Oleh moderator orang itu dipersilakan berbicara. Laki-laki yang tergolong tua dengan jenggot warna putih melangkah ke mimbar. Hadirin tenang.

“Saya mau berbicara dari segi hukum,” kata Pak Jenggot itu. “Seorang wanita yang belum habis masa idahnya, dilarang keluar dari rumah. Itu ketentuan. Jadi Bu Kardi yang datang ke masjid ini, padahal masa idahnya belum habis, telah melanggar hukum. Dengan demikian semua kata-katanya harus ditolak, demi hukum.”

Merah padam wajah Bu Kardi. Spontan dia berdiri.

“Saya datang ke masjid ini untuk meluruskan persoalan. Bukan untuk bersenang-senang. Saya berbicara didahului dengan sumpah, bukan main-main!”

“Sebaiknya Ibu pulang,” balas Pak Jenggot. “Serahkan semua urusan kepada putra Ibu.”

Anak Pak Kardi tiba-tiba bangkit dari duduknya, langsung berbicara tanpa meminta ijin pada moderator.

“Bapak tadi mengungkap masalah hukum. Ijinkanlah saya pun mengajukan masalah itu. Mohon penjelasan dari Pak Jenggot, Pak Haji Harun atau siapa saja yang ahli dalam hukum fiqih. Andaikata ada di antara kita yakin bahwa roh ayah saya telah menjadi imam solat Subuh dan dimakmumi oleh sejumlah orang, lalu bagaimana hukumnya? Syahkah solat orang-orang itu? Apakah memang dibenarkan manusia hidup makmum pada roh orang yang sudah meninggal?”

Hadirin bungkam seketika. Tidak ada yang bisa menjawab. Melihat bahwa pertanyaannya telah membuat hadirin terhenyak, maka pemuda itu meneruskan bicaranya:

“Jadi masalah yang kita hadapi ini sebenarnya sederhana saja. Dengan penuh ketulusan kami mohon sudilah orang yang telah bertindak sebagai imam solat Subuh di masjid ini pada tanggal 21 September yang lalu, berterus-terang. Tampillah sekarang juga, atau pada kesempatan lain agar tidak…”

Mendadak Haji Harun bangkit dari duduknya. Semua orang terbelalak. Mereka mengira tokoh itu tampil memenuhi permintaan anak Pak Kardi.

“Begini, Saudara-saudara. Ada riwayat yang menceritakan tentang orang hidup solat bersama para arwah,” katanya. “Saudara-saudara ingat kisah Isro-Mi’roj? Bukankah dalam kisah itu antara lain dituturkan bahwa Nabi Muhammad solat jamaah dengan arwah para nabi? Jadi bisa terjadi orang hidup solat jamaah dengan roh orang yang sudah meninggal.”

Sebagian hadirin mengangguk-angguk, puas dengan kata-kata Haji Harun. Tetapi perasaan lega itu dibuyarkan lagi oleh sanggahan anak Pak Kardi.

“Yang Bapak maksud peristiwa solat jamaah di Masjidil Aqsha, bukan?” tanya anak muda itu. “Dalam solat itu Nabi Muhammad menjadi imam, arwah para nabi makmum. Jadi solat Nabi Muhammad jelas syah. Sedangkan yang konon terjadi di masjid ini, roh ayah saya mengimami para manusia. Ini tidak pernah dan tidak mungkin terjadi.”

“Baiklah, baiklah,” kata moderator dengan suara keras. “Kalau perdebatan ini diteruskan, bukannya persesuaian pendapat yang kita peroleh, melainkan makin tajamnya perbedaan pendapat di antara kita. Karena itu saya mau menarik kesimpulan, mudah-mudahan bisa diterima oleh semua pihak. Yang pertama ialah Pak Kardi telah meninggal akibat kecelakaan lalu-lintas pada tanggal 21 September, pukul empat dini hari. Yang kedua, siapa yang menjadi imam solat Subuh di masjid ini pada tanggal tersebut, saya serahkan pada pendapat hadirin masing-masing.”

“Tidak, tidak! Saya tidak bisa menerima kesimpulan semacam itu!” protes anak Pak Kardi. “Begini para hadirin. Saya mohon Ibu-ibu dan Bapak-bapak bersabar sejenak. Urusan utang-piutang seseorang yang meninggal harus diselesaikan oleh pihak keluarga secepat mungkin. Alhamdulillah persoalan materi itu sudah kami selesaikan. Tetapi ternyata kematian ayah saya masih meninggalkan masalah yang cukup rumit, dan bukan menyangkut urusan materi. Ini pun harus segera diselesaikan, tidak boleh terkatung-katung. Kalau cara bagaimana ayah saya menemui ajal serta pada pukul berapa beliau meninggal sudah bisa disimpulkan, mengapa soal siapa imam solat Subuh ketika itu tidak bisa disimpulkan?”

“Ya, lantas siapa menurut Anda?” tanya moderator.

“Orang lain, bukan ayah saya!”

“Lalu, bagaimana dengan kesaksian dua puluh lima jamaah solat Subuh di masjid ini?” sanggah seorang hadirin. “Apakah mereka Anda anggap sebagai pembohong? Itu penghinaan namanya! Mereka menyatakan kesaksian mereka secara jujur, tanpa pamrih. Kami malah balik curiga terhadap Anda. Kami ini menghormati dan bahkan mengagumi ayah Anda, kenapa justru Anda tentang?”

“Karena tidak proposional! Ayah saya bukan wali, manusia biasa.”

“Itu menurut kriteria Anda. Silakan. Kami melihat kenyataan lain.”

“Stop, stop!” kata moderator lagi melihat perdebatan makin memanas. “Pertemuan ini sudah saatnya untuk diakhiri. Toh saya sudah membuat kesimpulan. Kalau mau meneruskan perdebatan silakan di tempat lain, bukan di masjid ini.”

Palu pun segera diketukkan tiga kali, tanda pertemuan telah berakhir. Tidak sampai terjadi pertengkaran, tetapi jelas ketidak puasan dirasakan oleh pengunjung pertemuan.

Keesokan harinya kubur Pak Kardi masih tetap dibanjiri peziarah.*

 

*)KOMPAS, Minggu, 2 Juli 2000