Sunnah Perbedaan

Dr Mahmudi Asyari

TIDAK hanya saat ini wacana Islam monolitik berusaha digencarkan oleh pihak-pihak yang berkeyakinan bahwa Islam hanya satu. Para pengusung ajaran ini berdalih bahwa Islam tidak boleh banyak aliran. Sebab, pada zaman Nabi, tidak ada perbedaan dalam Islam.

Meskipun argumen itu masih bisa diperdebatkan, wajar saja ketika Nabi hidup pendapat masih satu. Selain wilayah Islam baru sebatas Madinah dan Makkah, sahabat selalu meminta konfirmasi kepada beliau dan pendapat beliaulah yang kemudian menjadi pegangan.
Meskipun demikian, menurut Yusuf Qaradhawi, perbedaan sesungguhnya tidak bisa dihindari karena selain tingkat pemahaman yang berbeda, nash juga banyak yang memberikan peluang untuk berbeda pandangan.

Oleh sebab itu, jika saat ini ada orang yang mau menafikan itu, sungguh selain hal itu hanya membuang-buang energi dan semakin membuka lebar pertentangan juga mengingkari sunnah Allah. Walhasil, Islam memang hanya satu. Namun, terkait masalah pernak-perniknya, “Islam” tidak mungkin disamakan karena perbedaan itu memang sunnah yang harus diterima sebagai salah satu bagian dari doktrin “rahmatan lil alamin”.

Berkaitan dengan itu, jika kemudian kepada sesama Muslim saja mereka sangat garang dan tidak segan-segan melakukan kekerasan lantaran berbeda pendapat, maka sesungguhnya pelanggaran terhadap sunnah Allah tersebut sungguh sangat nyata. Apa yang dimaksud dengan sunnah Allah tidak lain sebagaimana Dia tegaskan dalam sebuah ayat al-Quran bahwa jika sekiranya Allah berkehendak, niscaya Ia jadikan manusia satu umat saja (Asy Syuraa:8). Dalam banyak hal, kata umat memang merujuk kepada bangsa. Namun, yang lebih populer kata itu merujuk kepada kelompok agama, terutama Islam. Maka, seringkali kata itu berkaitan dengan umat Islam meskipun bisa juga digunakan untuk konteks bangsa.

Oleh sebab itu, mengingat kata umat lebih banyak dipergunakan sebagai sebuah entitas keagamaan, maka dalam ayat itu, Allah menegaskan bahwa perbedaan adalah sebuah sunnah-Nya. Lantas, kenapa kemudian, terutama di internal umat Islam, hal itu masih harus dipersoalkan?

Sikap mempersoalkan perbedaan aliran itu, menurut saya, hanya sebuah tindakan memutar jarum jam jauh ke belakang, dimana umat diliputi perpecahan politik. Artinya, selama tidak hal-hal fundamental yang menyimpang sehingga bisa dikategorikan sebagai bukan Islam, maka kekerasan sangat tidak pantas dilakukan. Sebab, apa yang diklaim benar itu hanyalah menurut diri dan kelompoknya. Jika memang itu yang dianggap paling benar, laksanakan saja dan jika dirasa perlu mengajak orang lain, maka lakukanlah dengan bijak dan lewat argumen yang masuk akal, buka malah menebar peluru bid’ah dan ancaman masuk neraka.

Oleh sebab itu, jika kemudian perbedaan pemahaman—yang ranahnya khilafiyah—diupayakan untuk dibungkam dengan kekerasan, maka tindakan itu tidak hanya melanggar KUHP, tetapi, lebih jauh daripada itu, melanggar sunnah Allah yang mengisyaratkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Sunnah sahabat sejak Nabi wafat pun telah mengalami perbedaan yang marak. Meskipun marak, tidak ada upaya membungkam yang berbeda dengan kekerasan fisik, bahkan mengecam saja pun tidak. Malah sahabat yang berbeda pendapat cuma berkata, “Itu pendapatmu!” Sikap sahabat tersebut adalah bukti bahwa perbedaan pendapat memang pasti terjadi lantaran adanya nash yang membuka peluang kea rah itu dan daya nalar setiap orang yang berbeda-beda. Ada yang merasa cukup dengan aspek tersurat, tetapi tidak sedikit yang masih merasa bahwa nash harus dipahami lewat aspek-aspek tersiratnya. Maka, ketika terjadi kasus penyerangan di Pasuruan saat peringatan maulid Nabi di sebuah pesantren, saya hanya bergumam betapa perbedaan tidak hanya sebatas argumentasi belaka tapi sudah mengarah kepada tindakan fisik. Apa pun alasannya, tindakan kekerasan tidak bisa dibenarkan. Apalagi konteksnya adalah sekedar peringatan maulid Nabi yang menurut penilaian sekelompok orang tidak berdasarkan dalil dan masuk kategori bid’ah.

Masalah maulid Nabi memang selalu menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dan, di antara mereka adalah Jalaluddin al-Suyuti. Ia mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi adalah bid’ah hasanah dimana siapa yang memperingatinya akan diberi pahala, karena dalam maulid itu ada motivasi untuk membesarkan Nabi dan menumbuhkan kecintaan terhadap beliau. Pendapat hampir serupa dikemukakan oleh Syekh Atiah Saqr dan Yusuf Quradhawi. Menurut keduanya, hal itu bukan masalah yang mesti diperdebatkan, terutama di era saat ini dimana umat Islam sudah banyak yang melupakan ajaran beliau. Peringatan maulid Nabi akan menjadi media yang baik dalam rangka menumbuhkan motivasi untuk mengamalkan ajaran Islam.

Jika masalahnya hanya bertumpu pada maulid Nabi, penyerangan tidak seharusnya terjadi. Sebab, peringatan maulid Nabi adalah sebuah praktik yang biasa dilakukan oleh sebagian besar muslim di Indonesia.

Oleh sebab itu, motivasi penyerangan itu harus diusut tuntas; apakah memang, sebagaimana dikatakan banyak tokoh, ada design besar untuk merusak bangsa melalui pembangkitan militansi beragama. Menurut saya, sangat mustahil jika persoalannya sekedar beda paham dalam memandang maulid. Sebab, perbedaan seputar masalah itu sudah biasa terjadi sejak dulu dan tidak ada penyerangan terhadap yang mengadakannya. Masalah ini harus dicermati dengan serius, karena bukan hal yang mustahil jika penyerangan terhadap pesantren itu dilakukan untuk memprovokasi kalangan yang pro maulid agar melakukan tindakan anarkis juga terhadap kelompok yang selama ini suka menggunakan terma bid’ah untuk menilai aliran lain yang tidak sejalan dengannya.

Jika ini yang terjadi, Islam akan kembali ke era dimana sesama muslim dari pengikut mazhab yang berbeda akan saling bunuh satu sama lain.

Oleh sebab itu, terkait kasus tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) seharusnya tidak cukup sekedar mengecam, melainkan harus juga meneliti apa motivasi sebenarnya di balik tindakan tersebut. Jika memang semata motivasi agama, para pelaku penyerangan harus disadarkan perihal keniscayaan disparitas keislaman. Namun, jika ternyata ada motivasi politik untuk menghancurkan Islam dan memecah-belah persatuan bangsa, MUI harus mendorong negara untuk melaksanakan tugasnya dengan benar, agar agama sebagai simbol sakral tetapi—sebagaimana pernah dikatakan Cak Nur—sangat ampuh untuk dipergunakan sebagai alat agitasi tersebut tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempunyai niat jahat terhadap muslim sebagai penghuni mayoritas negara ini.

Berkaitan itu, mari kita cermati firman Allah yang memang tidak menghendaki manusia dalam satu umat (agama). Isyarat Allah itu sejatinya dimaknai jika, dalam soal agama yang mendasar saja, Ia tidak berkehendak menyeragamkan, bagaimana bisa manusia menyeragamkan hal-hal yang bersifat khilafiyah di dalam Islam.

*)sumber: http://www.harianpelita.com/read/16519/4/opini/sunnah-perbedaan/