KACAUNYA BAHASA IKLAN: SENGAJA ATAU CEROBOH?

Judul tulisan di atas adalah tagline iklan suatu merk rokok. Tagline ini bertebaran di layar televisi, di koran, di baliho-baliho pinggir jalan. Sekilas, tagline iklan itu tidak aneh dan kita faham maksudnya. Namun, kalau ditilik dari pemilihan dan penggunaan kata, kita jadi tahu bahwa ‘yang lebih asyik daripada rumput saya adalah tetangga saya, bukan rumput tetangga saya’. Kalau mau lebih akurat, tagline itu harusnya berbunyi ‘Rumput gue lebih asyik daripada rumput tetangga’. ‘Rumput tetangga’ berbeda jauh dari ‘tetangga’. Ketidaktepatan juga mendera kata ‘asik’ yang seharusnya ‘asyik’ dan ‘dari’ yang seharusnya ‘daripada’.

Bunyi tagline pada iklan di atas mungkin disengaja atau mungkin pula hasil dari kecerobohan karena sang copywriter (penulis tagline) kurang memahami ejaan ‘asyik’, makna ‘daripada’ dan kelengkapan frase pembandingnya ‘rumput tetangga’. Silakan bandingkan dengan iklan perbandingan sederhana di samping ini yang mampu menampilkan tagline perbandingan dengan lebih akurat.

Kecerobohan copywriter di negeri ini sepertinya bukan hal aneh. Masih ingat iklan produk telepon seluler Nexian Journey sekitar setahun lalu? Iklan produk telepon seluler ini tampil di koran dan baliho-baliho raksasa di berbagai kota. Silakan amati potongan iklan yang menampilkan aktor Tora Sudiro ini.

Adakah Anda temukan kecerobohan sepele? Ya, benar. Huruf  ’s’ tidak perlu ada pada ‘begins‘. Tagline yang benar untuk iklan ini adalah ‘Let the Journey Begin” karena kata kerja ‘let’ harus diikuti bare infinitive alias infinitive without to alias root word’.

Lalu, masih ingat pulakah Anda pada banner iklan Speedy pada halaman Kompasiana beberapa saat yang lalu? Di situ ada kata ‘thank you for your participate’ yang seharusnya ‘thank you for your participation’.

Boleh tersenyum juga atas iklan layanan masyarakat di Gianyar, Bali ini. Betapa cerobohnya si penulis tagline atas penggunaan ‘hide’ (sembunyikan), yang seharusnya ‘stay away from drugs’

Izinkan saya berbagi sedikit tentang seni copywriting. Copywriting adalah upaya menggunakan kata-kata (bahasa) dan gagasan untuk mempromosikan orang, bisnis, pendapat atau gagasan. Copywriting digunakan untuk iklan di berbagai media. Fungsinya lebih jauh adalah sebagai alat marketing dan promosi untuk menarik minat dan membujuk audience agar membeli atau melakukan sesuatu yang diinginkan oleh iklan tersebut.

Dengan demikian, para copywriter haruslah individu-individu yang memiliki pengetahuan bahasa yang luas, mempunyai kreatifitas yang tinggi, dipersenjatai dengan pengetahuan umum yang luas pula, dan melengkapi dirinya dengan semangat check-and-rechek ketepatan berbahasa

Kecerobohan pada iklan rokok dan iklan HP di atas memang sepele. Namun, bisakah Anda bayangkan bahwa proses penciptaan iklan tersebut melibatkan banyak orang (penulis naskah, biro iklan, klien pemesan). Tidakkah satu dari sekian banyak orang tersebut mendeteksi adanya kesalahan bahasa? Tidakkah ada upaya proof reading? Tidakkah ada konsultan atau editor bahasa?

Soal iklan HP Nexian itu, anak saya yang siswi SMP berseloroh, “Hadeeeh, puluhan profesional yang terlibat dalam penyiapan iklan bernilai miliaran itu dikecoh oleh satu huruf ’s’. Cape, deh!”

Kecerobohan berbahasa dalam beriklan mungkin tak terelakkan. Namun, kalau itu dilakukan oleh para copywriter yang secara professional tugasnya adalah menampilkan kreasi yang akurat dari segi bahasa, kecerobohan ini amat disayangkan.

*)sumber: http://bahasa.kompasiana.com/2011/07/21/kacaunya-bahasa-iklan-sengaja-atau-ceroboh/