Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS Al Isra’ (17) : 1)

Isra mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya Rasulullah dari masjidil haram di mekah ke masjidil aqhsa di Al-Quds (palestina), lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq baik malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.Peristiwa ini terjadi tanggal 27 Rajab, 11 tahun setelah kenabian Rasulullah
Peristiwa besar ini ditilik dari sejarahnya, terjadi setelah Rasulullah mengalami masa2 sulit perjuangannya menegakan agama Allah setelah ditinggal oleh orang2 terdekatnya. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, yang setia menemani dan menghiburnya dikala semua orang mencemoohnya. Lalu Beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib, yang walaupun kafir tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.

Sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah Rasulullah. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Rasul Allah/utusan Allah. Hal ini termaktub dalam Al Qur’an surat al Isra 90 – 93 :

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. (QS. Bani Israil : 90 – 93)
Atas pertanyaan pertanyaan tersebut Rasulullah dengan bijaksana diperintahkan untuk menjawab “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?

Bagi umat islam sendiri peristiwa ini adalah tantangan keimanan. Suatu perjalanan yang sulit dicerna oleh akal manusia, yang hanya dapat diimani tanpa dapat disanggah dengan alur logika saat itu. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat berpindah pindah tempat dengan jarak ribuan Km. Sebagai gambaran jarak antara mekah dengan palestina sekitar 1500 Km dimana biasa ditempuh dalam waktu 2 bulan pada saat itu. Hanya keimanan lah yang dapat menjawab perjalanan musykil Rasulullah hingga ke langit ketujuh dan menemui Allah SWT. Apalagi saat itu pemahaman manusia tentang sains dan teknologi belum seperti sekarang ini.
Albert Einstein

Maka, bukan suatu kebetulan kiranya, jika kemudian Allah ciptakan seorang manusia bernama Albert Einstein, ilmuwan berbangsa Yahudi (bangsa yang sejak awal `menentang` Islam), yang kelak kira-kira 1000 tahun setelah peristiwa isra mi’raj lahirlah teori relatifitas, dan kebenaran Isra` Mi`raj menjadi nyata adanya.

Lahir di Jerman tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal di Amerika Serikat tanggal 16 April 1955. Sebagai ilmuwan, Einstein telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk menerobos dan membabat kelebatan dan kepekatan hutan ilmu pengetahuan. Dengan dedikasi dan vitalitasnya yang tinggi, iapun dapat membukakan jalan pencerahan bagi banyak orang. Ia telah menyumbangkan pikiran-pikirannya yang begitu berharga. Menyumbangkan teori-teorinya yang dapat memecahkan banyak teka-teki dan persoalan yang selama ini menyelimuti kehidupan.
Teori Relativitas

Satu dari sekian teorinya, adalah tentang relativitas. Sebuah teori yang mengupas hakikat alam semesta sebagai suatu susunan terpadu di mana segala yang ada di dalamnya, dengan kemajemukan dan keberagamannya, tunduk pada satu hukum universal, dengan kecepatan cahaya sebagai konstanta bandingnya. Sebuah teori yang, kelak melahirkan pula teori (ide) tentang bom atom yang begitu mengerikan itu.

Dalam teorinya itu, Einstein menerangkan bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak dalam kehidupan ini. Segala sesuatu relatif dalam gerak dan kedudukannya. Sebuah bola yang bulat, suatu saat akan dapat berubah pipih. Begitu pun penggaris yang panjang, pada saat yang berbeda dapat mengerut, pendek. Sebuah benda yang berbobot ringan di satu saat, dapat menjadi berat atau tidak berbobot sama sekali di saat-saat lainnya. Jarum jam yang bergerak cepat mengukur waktu, ada kalanya menjadi lambat bahkan pada satu titik masa, berhenti sama sekali. Juga jantung yang berdenyut menandai usia, dapat mengalami kelambatan hingga usia pun berjalan lebih lambat dari yang semestinya.

 

Einstein merumuskan teorinya dalam sebuah persamaan:

t’ =  waktu benda yang bergerak
t =  waktu benda yang diam
v =  kecepatan benda
c =  kecepatan cahaya

 

 

Diterangkan bahwa perbandingan nilai kecepatan suatu benda dengan kecepatan cahaya, akan berpengaruh pada keadaan benda tersebut. Semakin dekat nilai kecepatan suatu benda (v) dengan kecepatan cahaya (c), semakin besar pula efek yang dialaminya (t`): perlambatan waktu. Hingga ketika kecepatan benda menyamai kecepatan cahaya (v=c), benda itu pun sampai pada satu keadaan nol. Demikian, namun jika kecepatan benda dapat melampaui kecepatan cahaya (v>c), keadaan pun berubah. Efek yang dialami bukan lagi perlambatan waktu, namun sebaliknya.

Pada awalnya, teori Relativitas itu pun mendapat banyak tentangan. Seperti halnya Nabi saat memberitakan Isra` Mi`raj, Einstein saat mengumumkan teori tersebut, banyak dicemooh bahkan dianggap tidak waras karena, sebagaimana juga Isra` Mi`raj, teorinya itu pun telah menentang tradisi yang selama ini dianut dan dielu-elukan. Relativitas telah menolak kemutlakan ukuran bahwa semua benda selalu dalam keadaan tetap, tidak pernah berubah. Sebuah bola akan tetap bulat, sebuah penggaris akan tetap panjang, usia akan tetap berlari menua, bagaimanapun kondisinya.

Namun ketika laboratorium kemudian dapat menemukan gejala yang sama sebagaimana terurai dalam Relativitas, segera teori itu pun memperoleh kedudukannya yang semestinya sebagai sebuah kebenaran.

Studi tentang sinar kosmis, merupakan satu pembuktian.

Didapati bahwa di antara partikel-partikel yang dihasilkan dari persingungan partikel-partikel sinar kosmis yang utama dengan inti-inti atom Nitrogen dan Oksigen di lapisan Atmosfer atas, jauh ribuan meter di atas permukaan bumi, yaitu partikel Mu Meson (Muon), itu dapat mencapai permukaan bumi. Padahal partikel Muon ini mempunyai paruh waktu (half-life) sebesar dua mikro detik yang artinya dalam dua perjuta detik, setengah dari massa Muon tersebut akan meleleh menjadi elektron. Dan dalam jangka waktu dua perjuta detik, satu partikel yang bergerak dengan kecepatan cahaya (± 300.000 km/dt) sekalipun paling-paling hanya dapat mencapai jarak 600 m. padahal jarak ketinggian Atmosfer di mana Muon terbentuk, dari permukaan bumi, adalah 20.000 m yang mana dengan kecepatan cahaya hanya dapat dicapai dalam jangka minimal 66 mikro-detik.

Lalu, bagaimana Muon dapat melewati kemustahilan itu?

Ternyata, selama bergerak dengan kecepatannya yang tinggi—mendekati kecepatan cahaya, partikel Muon mengalami efek sebagaimana diterangkan teori Relativitas, yaitu perlambatan waktu.

Teori Einstein ini terbukti tahun 1994 , saat sebuah pesawat sipil Italia terbang di angkasa pantai Afrika. Tiba-tiba, pesawat lenyap dari layar radar di ruang kontrol. Di saat petugas bandara di landa kecemasan, pesawat sipil itu muncul lagi di ruang udara semula, dan radar dapat melacak kembali sinyal pesawat tersebut. Terakhir, pesawat sipil ini berhasil mendarat dengan mulus di bandara wilayah Italia. Namun, awak pesawat dan 315 penumpangnya sama sekali tidak tahu bahwa mereka pernah lenyap.

Dengan perasaan bingung kapten pilot berkata: “Pesawat kami tampak stabil setelah lepas landas dari Manila, dan tidak terjadi insiden apapun, namun, di luar dugaan petugas di ruang kontrol melaporkan kehilangan jejak pesawat, memang agak tidak normal”

Tetapi, kenyataannnya tidak dapat dibantah: ketika tiba di bandara, jam setiap penumpang terlambat 20 menit.

Juga di saat yang sama saat itu, sebuah tim arkeologi yang dibentuk oleh arkeolog Perancis, tiba di daerah aktivitas pertama manusia di tepi Sungai Nil untuk riset ilmiah. Di sana mereka menemukan sebuah Kuil Dewa Matahari, dan hingga kini sudah 4000 tahun sejarahnya. Karena tak pernah dikunjungi manusia, kuil itu sudah lama runtuh, yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan, sehingga tampak sunyi dan rongsok.

Ketika arkeolog menggali reruntuhan tersebut, di bawah sebuah tonggak batu kuno, mereka menemukan sekeping uang perak terkubur di bawah tanah. Namun anehnya, itu bukan uang perak Mesir kuno, melainkan sekeping uang perak Amerika. Yang lebih mengherankan lagi, itu bukan uang perak kuno Amerika, tapi sekeping uang perak zaman sekarang.

Namun, yang tak habis dimengerti adalah: Itu adalah uang perak dengan nilai nominal 25 sen dollar AS yang telah di cetak dan “belum diedarkan” yang masih tertinggal di kas negara Amerika, yang rencananya baru akan diedarkan pada tahun 1997!!

Mengapa uang perak AS zaman sekarang bisa berada di dalam kuil Mesir kuno pada 4000 tahun silam? Para ilmuwan benar-benar bingung dibuatnya.
Kebenaran Isra` Mi`raj

Demikianlah Relativitas telah dapat membuktikan kebenarannya. Menyingkap kebenaran-kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik keruwetan dan arogansi ilmu pengetahuan. Termasuk, kebenaran Isra` Mi`raj.

Sebagaimana diterangkan di depan, ketika sebuah benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, seperti halnya partikel Muon, benda itu akan mengalami efek perlambatan waktu. Seseorang yang meluncur ke angkasa dengan pesawat yang berkecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka ia akan mengalami pertambahan usia yang lebih lambat dari yang semestinya di bumi. Ketika kembali ke bumi ia akan mendapati bumi telah begitu tuanya sedang dirinya hanya bertambah beberapa waktu saja. Ia telah terlempar ke masa depan. Namun jika kecepatannya ditambahkan hingga melampaui batas kecepatan cahaya, yang akan dialaminya bukanlah perlambatan waktu, namun sebaliknya. Ketika kembali ke bumi, bukan masa depan yang didapatinya. Namun, ia kembali ke masa lalu. Ia telah menjadi penziarah masa lalu.

Teori inilah yang mungkin menjabarkan perjalanan Rasulullah saat isra mi’raj. Rasulullah menaiki buraq, hewan sejenis kuda bersayap sebagai kendaraan saat melakukan perjalanan.Lalu pertanyaannya adalah bagaimana perjalanan dengan kecepatan cahaya itu dilakukan oleh badan Rasulullah Saw yang terbuat dari materi padat?

Rasulullah dengan diantar malaikat menaiki Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut.Buraq berasal dari kata barqun yang artinya kilat. Untuk malaikat dan Buraq tidak ada masalah karena zat mereka terbuat dari cahaya juga. Seandainya badan bermateri padat seperti tubuh kita dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya, bisa diduga apa yang akan terjadi. Badan kita akan hancur lebur, tercerai berai karena ikatan antar molekul dan atom terlepas.

Jawaban yang mungkin untuk pertanyaan itu adalah tubuh Rasulullah diubah susunan materinya menjadi cahaya. Bagaimanakah hal terjadi?

Teori yang memungkinkan adalah teori Annihilasi. Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika partikel proton direaksikan dengan antiproton, atau elektron dengan positron (anti elektron), maka kedua pasangan tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gamma, dengan energi masing-masing 0,511 MeV (Multiexperiment Viewer) untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya apabila ada dua buah berkas sinar gamma dengan energi sebesar tersebut dilewatkan melalui medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel tersebut di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi bisa dirubah menjadi cahaya dengan cara tertentu yang disebut annihilasi dan sebaliknya.

Maka ada riwayat bahwa Rasulullah SAW sebelum menaiki buraq Rasulullah SAW dibelah dadanya dan dicuci organ-organ tubuhnya di sumur Zam-zam oleh malaikat Jibril dan Israfil. Besar kemungikinan hal ini menunjukkan bahwa jasad Rasulullah SAW susunan materinya diubah menjadi cahaya atau mengalami annihilasi.

Bila dihitung jarak Mekkah – Palestina sekitar 1500 km ditempuh dengan kecepatan cahaya (kecepatan cahaya = 300rb km/detik), maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0,005 detik dalam ukuran waktu kita di bumi.

Sesampainya di masjidil Aqsha tubuh Rasulullah dikembalikan menjadi materi. Peristiwa ini mungkin lebih dikenal seperti teleportasi dalam teori fisika Quantum. Dari masjidil Aqsha dilanjutkan dengan perjalanan menembus batas dimensi “menemui Allah”, melewati langit ketujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha.

Dengan kecepatan buraq (yang kecepatannya bisa mendekati atau melebihi kecepatan cahaya yakni diatas 300rb km/dtk). Maka ada riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah menemui beberapa peristiwa yang akan terjadi kelak, yaitu siska neraka dan keindahan surga. Juga mengalami ke masa lalu, Rasulullah SAW berjumpa dengan beberapa umat nabi Musa As dan nabi Isa As. Dan, memasuki masa lalu itulah Rasulullah memberangkatkan perjalanannya. Perjalanan ini hakikatnya adalah perjalanan menembus batas dimensi ruang dan waktu dan bukan pengembaraan ruang angkasa.

Seiring guliran waktu, perjalananpun melaju ke titik saat Rasulullah hendak memulai. Sehingga seolah-olah Rasulullah melakukan perjalanan Isra` Mi`raj hanyalah sesaat. Padahal, hakikatnya, Beliau pun menjalani Isra` Mi`raj, berdasarkan perhitungan waktu pribadinya, yang lazimnya menghabiskan waktu yang lama.

Demikianlah akal pikir manusia yang sempit mencoba menjabarkan rahasia besar Allah dibalik perjalanan isra mi’raj Rasulullah SAW. Analogi ini hanyalah mencoba merekayasa kejadian isra mi’raj berdasarkan ilmu pengetahuan saat ini. Bisa jadi teori ini salah karena kebenaran senantiasa milik Allah SWT sang “Empunya” cerita.

Subhanallah, maha suci Allah dengan segala kebesarannya…

*)Sumber: