Oleh: Dr. As-Sayyid Muhammad Alawi-Al-Maliky Al-Hasany – Makkah

Sebagian orang mempunyai pemahaman yang salah tentang hakekat “perantara” (wasilah). Mereka menghukumi “perantara” sebagai suatu bentuk kemusrikan, sehingga mereka menganggap siapa saja yang mengambil “perantara” maka dia telah berbuat syirik kepada Allah. Anggapan tersebut didasarkan pada firman Allah :

Kami tidak menyembah mereka (berhala—berhala). Kecuali agar supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah” (QS.Az Zumar : 3).

 

Pemahaman tersbut adalah pemahaman salah dan tidak berdasar. Ayat tersbut menjelaskan pengingkaran Allah Ta’ala terhadap orang-orang Musyrikin atas ibadah mereka pada berhala-hala dan perbuatan mereka yang telah menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai Tuhan selain Allah, serta pengingkaran terhadap perkataan mereka yang mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala tersebut sebagai perantara ibadah kepada Allah. Dengan demikian kekufuran dan kesyirikan mereka adalah dari sisi ibadah mereka terhadap berhala-berhala dan keyakinan terhadap berhala-berhala tesebut sebagai tuhan selain Allah.

Pada ayat tersebut di atas dapat diambil pengertian bawa orang-orang musyrikin tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Jikalau ucapan mereka benar, maka tentuya Allah lebih agung disisi mereka dari pada berhala-berhala itu, sehingga mereka tidak akan menyembah selain Allah.

Allah melarang orang muslim untuk mencela berhala-berhala mereka dengan firman-Nya:

Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat mengganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian pada Tuhan mereka kembali, lalu dia memberitakan kepda mereka yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An-am : 108)

Abdu Rozaq Abdu bin Humaidi Ibnu Jarir , Ibnu Al-Mudzir, Ibu Hatim dan Abu Syaikh dari Qotadah RA meriwayatkan bahwa ia berkata : “ Ketika itu orang-orang muslim mencaci maki berhala-berhala Kuffar maka orang-orang Kuffar membalas mencaci maki Allah Azza wa Jalla, maka kemudian Allah menurunkan surat Al-An’am ayat 108. Riwayat ini adalah sebagai asbabun nuzul (latar belakang turunnya) ayat tersebut.

Dari sini jelas sekali bahwa kaum muslimin dilarang berucap dengan kalimat yang bernada menjelekkan berhala-berhala yang disembah orang-orang kafir di kota Mekkah. Karena ucapan tersebut menyebabkan kemarahan mereka (para penyembah berhala) sebagai rasa cemburunya terhadap berhala mereka. Jika mereka marah maka mereka membalas pada orang-orang muslim dengan mencaci maki Allah Tuhan semesta alam serta menjelek-jelekkan dengan kekurangan-kekurangan padahal Allah maha suci dari segala kekurangan. Seandainya ibadah mereka terhadap berhala-berhala itu sekedar sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah, maka tentu mereka tidak berani mencela Allah sebagai balas dendam terhadap orang Muslim yang mencela berhala-berhala mereka. Dari sini jelas sekali bahwa Allah Ta’ala di sisi mereka lebih kecil dari berhala-berala mereka. Demikian juga firman Allah :

Dan seandainya engaku bertanya pada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, maka sugguh mereka akan berkata Allah” (QS Az –Zumar ;38).

Seandainya mereka meyakini secara benar bahwa Allah Ta’ala sebagai pencipta, maka tentu mereka hanya beribadah kepada Allah, atau paling tidak, pemuliaan mereka pada Allah di atas pemuliaan mereka pada batu (berhala). Dengan demikian mereka tidak akan mencaci Allah ketika merasa cemburu atas tuhan-tuhan mereka yang dicaci oleh orang Muslim. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Bahkan dalam ayat yang lain :

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka : “ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah. Dan saji-sajian yang sampai pada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka” (QS Al-An’am: 36).

Oleh karena itu, jika mereka tidak meremehkan Allah dibanding berhala-berhala mereka, tentu mereka tidak akan membandingkan Allah dengan perbandingan seperti yang diceritakan dalam ayat di atas. Maka cocok kalau Allah menghukumi mereka dengan firman-Nya “Amat buruklah ketetapan mereka”

Contoh lain adalah perkataan Abu Sufyan RA, sebelum masuk Islam “Tinggikanlah Hubal” sebagai mana yang diriwayatkan Bukhari : “ia memanggil berhala mereka dengan Hubal yang lebih tinggi dari pada Tuhan langit dan bumi dalam menyelesaikan kesusahan. Dan ia (Hubal) menguasai Allah untuk bersama-sama dengan Sufyan dan pasukannya mengalahkan pasukan muslimin yang berkehendak menghancurkan tuhan mereka, ini lah perbandingan yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin terhadap tuhan-tuhan mereka dengan Allah Tuhan semesta alam”.

Dari sini dapat diketahui bawa kebanyakan manusia tidak memahami kebenaran “wasilah”. Mereka juga melandasi pemahaman itu dengan landasan yang mereka buat sendiri.

Ketika Allah memerintahkan kaum muslimin menghadap kiblat dalam sholatnya, maka mereka menghadap ke kiblat (Ka’bah) karena ibadahnya bukan karena menyembah Ka’bah. Dan perintah mencium Hajar Aswad, hanya semata-mata ibadah karena Allah dan karena mengikuti Nabinya, jika seseorang dari kaum muslimin ini berniat menyembah Ka’bah dan Hajar Aswad, maka ia telah menjadi musyrik sebagai mana penyembah berhala.

Maka “perantara” dari aktifitas tersebut adalah suatu keharusan, dan bukan syirik. Tidak semua orang yang mengambil perantara antara dirinya dengan Allah dianggap melakukan kesyirikan. Karena jika tidak demikian, maka seluruh manusia telah melakukan kesyirikan kepada Allah. Sebab semua perkara manusia terbangun di atas dasar “perantara”. Nabi Muhammad SAW menerima Al-Qur’an dengan perantara malaikat Jibril, jadi Jibril adalah perantara untuk Nabi Muhamamd SAW, sedang Beliau SAW menjadi perantara bagi para sahabat.

Para sahabat bersegera datang kepada Rasulullah SAW ketika mereka tertimpa kesusahan, mereka mengadu kepadanya tentang keadaan mereka, mereka bertawasul dengan Rasul dan mereka minta dido’akan oleh Rasulullah SAW. Terhadap apa yang dilakukan oleh para sahabatnya. Rasulullah tidak berkata kepada mereka, “Kalian telah syirik” atau “Kalian telah kafir”. Atau “tidak diperkenanakan mengadu kepada ku dan juga jangan meminta dari ku, pergilah kalian, berdo’alah mintalah kalian kepada Allah, karena Allah lebih dekat pada kalian dari pda ku,” Rasulullah tidak berkata demikian, namun Rasulullah justru berdiri dan memenuhi apa yang mereka minta. Sekalipun demikian para sahabat sangat mengerti hakekat yang memberi adalah Allah, Allah lah yang Maha Mencegah, Menghamparkan, dan Maha Memberi Rizki. Sedangkan Rasulullah SAW memberi karena izin dari-Nya dan karena keutamaanya, sebagai mana sabda Rasulullah SAW yang artinya “Bahwasannya saya membagi dan Allah memberi”

Karena itu jika orang biasa boleh disifati atau disebut sebagai penyelesai maslaah dan yag memenuhi kebutuhan, maka apalagi Rasulullah SAW, mahluk yang paling mulia di antara dua alam (akhirat dan dunia), dan tuannya dua jenis mahluk yaitu manusia dan jin, dan mahkluk yang paling agung secara mutlak. Beliau pernah bersabda “Barang siapa yang menyelesaikan kesusahan dari kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia maka Allah akan memudahkan baginya kesusahannya di hari kiamat”(HR Bukhari)

Dalam banyak hadist disebutkan juga bahwa orang mukmin adalah meyelesaikan masalah, yang menolong, yang memenuhi, yang menutup dan yang didatangi untuk dimintai pertolongannya hanyalah sebagai perantara sedangkan pada Hakekatnya adalah Allah SWT. Walau demikian jika seorang mukmin tadi menjadi wasilah (perantara), maka boleh menisbatkan pekerjaan tersebut pada mukmin sebagai pelakunya.

Dalam banyak hadist disebutkan bahwa Allah menahan azab penduduk dunia, karena masih adanya orang-orang yang beristigfar pada Allah dan orang-orang yang meramaikan Masjid. Demikian pula Allah memberi rizki pada manusia serta menjatuhkannya dari bala dan banjir di karenakan masih adanya orang-orang yang beristigfar.

Salah satu hadist yang menunjukkan hal tersebut di atas adalah hadist yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Al-Baihaqie dalam Sunanya dari Malik Ad-Dailamy RA bahwa ia berkata “ Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya : “ seandainya tidak ada hamba-hamba yang rukuk pada Allah, anak kecil yang menyusui, ternak-ternak yang lagi makan diladang, maka sungguh akan ditimpakan kepada kalian siksa laksana air yang deras, kemudian dihancurkan yang hebat”.

Demikian juga hadist-hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqash RA, Imam Al-Tirmidzi dari Anas bin Malik RA dan dishahihkan oleh Al-Hakim, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, Ubadah bin Shamit serta hadist-hadist lain yang mempunyai makna yang sama. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagai manusia dengan sebagian yang lain pasti rusaklah bumi ini” (QS Al-Baqarah; 251)

Perantara Yang Anggung.

Pada hari kebangkitan yang agung yaitu hari Tauhid dan hari Keimanan, hari di mana telah nampak ‘Arsy, dan hari telah tampak pula perantara yang agung yang memiliki bendera perjanjian, kedudukan yang terpuji dan memiliki telaga yang, mengalir, sebagai pemberi syafa’at lagi diterima permintaan syafa’atnya, yang tidak ditolak syafa’atnya, tidak disia-siakan jaminannya pada orang yang telah ia berjanji dan tidak menghinakannya selamanya, tidak pula membuatnya sedih dan tidak membuat kejelekan padanya terhadap umatnya dimana saja mahkluk Allah mengahdapnya dan mengharap syafa’at darinya, maka ia berdiri dan tidak dikembalikan kecuali ia menggunakan pakaian yang terbaik, mahkota kemuliaan yang meliputi firman-Nya padanya : Wahai Muhammad, angkatlah kepala mu mintalah syafa’at maka akan Aku terima permintaan syafa’at mu, dan mintalah sesuatu maka akan diberi!.

*)Sumber: Majalah Aham, diterbitkan oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo, Kota Kediri, Jawa Timur Telp. 0354 – 771018-17 Fax. 0354 – 774511 Kode Pos 64114