INSEKTISIDA TAK LAGI MEMPAN TANGKAL WERENG GEGER

Serangan sporadis wereng cokelat sudah membuat kaum petani mulai kehilangan akal.Petani di Dusun Sedah Desa Klorogan Kecamatan Geger, misalnya,sengaja menggelar doa bersama di tengah sawah, Sabtu(11/6) malam kemarin. Mereka mengaku kebingungan menangkal hama yang membuat daun padi menguning dan mati. Upaya penyemprotan rutin tiga hari sekali dengan mengunakan insektisida sudah tidak lagi mempan membunuh kawanan wereng. Bahkan,petani juga sudah mencoba membasmi wereng dengan menggunakan obat nyamuk dan sabun cuci. Namun, hama itu juga tidak musnah. Doa bersama mengusir wereng di Desa Klorogan Kecamatan Geger itu dipimpin oleh H Muhari, tokoh warga setempat.

”Ini merupakan upaya terakhir warga setelah berusaha dengan berbagai cara. Saatnya memasrahkan diri kepala Allah SWT supaya hama wereng menyingkir dari Desa Klorogan,”kata H Muhari. Menurut dia, wereng itu datangnya dari Allah. Karena itu, para petani perlu meningkatkan doa agar hama itu segera disingkirkan. Sebelum memanjatkan doa bersama disertai bacaan tahlil dan istigfar, petani sengaja melagukan tembang Jawa: ‘Ayo dulur podho ngibadah, ngibadah neng tengah sawah, jalarane parine bubrah, supoyo oleh barokah.

Muhari menambahkan bahwa doa bersama itu sudah dilakukan Kamis(9/6) malam.”Dari pengalaman Kamis, Alhamdulilah wereng berangsur berkurang. Kita lakukan doa bersama lagi,”ungkap Muhari. Suyono,petani lain mengatakan, sekitar 25 hektare tanaman padi di dusunnya terserang hama wereng sejak seminggu yang lalu. Tanaman padi yang terserang itu berumur 60 hari. Suyono mengaku sudah menyemprotkan insektisida dua kali seminggu. Lantaran wereng tak kunjung mati, dia menggantinya dengan obat nyamuk dan sabun cuci. Namun, wereng belum beranjak dari tanaman padinya. ”Petani sudah binggung karena segala obat telah dicoba,” tambahnya.

Sejauh ini, PPL pertanian yang meninjau lokasi hanya memberikan bantuan satu kilogram serbuk insektisida pembasmi wereng. Namun ,petani menolaknya karena menilai PPL telah gagal melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Petugas terkesan menghindar jika ada tanaman padi terserang penyakit dan lebih memilih meninjau lahan pertanian yang tidak terserang penyakit. ”Petani menolak bantuan obat dari PPL karena cuma satu kilo untuk seluruh desa,membaginya susah. PPL gagal menjalankan tugasnya,”terang Rajikin,petani di Desa Klorogan. Kata dia, wereng juga mulai merambah tanaman hortikultura seperti terong dan cabe. Pada musim tanam mendatang, petani lebih memilih menanam padi setelah membabat dan membakar damen. Obat anti hama akan disemprotkan menyeluruh. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Madiun Moch Nadjib mengatakan, salah satu upaya pengendalian hama wereng dengan penyemprotan masal. Ini sudah dilakukan pada area sawah di Kecamatan Geger dan Kebonsari. Kata Nadjib, jumlah insektisida yang dibagikan di dua kecamatan itu disesuaikan dengan kondisi. ”Ini gerakan pencegahan,kebutuhan insektisidanya tergantung kondisi dan bantuan dari pemerintah bersifat stimulan saja,” terangnya.

*)sumber : http://www.radarmadiun.co.id/