Pria kelahiran Demak tahun 1958 ini penampilan sehari-harinya cukup bersahaja, namun jika sudah berbicara mengenai pendidikan Islam tidak bisa dihentikan begitu saja karena dia termasuk ahlinya sehingga buah pemikirannya menambah perbendaharaan pada dunia pendidikan Islam. Saat ini dia merupakan Guru Besar Ushul Fiqh di fakultas Syariah IAIN SU ( Sumatera Utara Medan namanya lengkapnya Prof. Dr. Ahmad Qorib,MA namun teman dekatnya cukup memanggil pak Qorib saja. Meski sudah menyandang gelar Profesor namun putera Kelahiran Desa Mutih Kulon kecamatan Wedung kabupaten Demak ini penampilannya masih seperti dahulu karena dia mengaku berasal dari desa sehingga kehidupannyapun tidak lepas dengan adat dan budaya desa.

“ Meski saat ini saya tinggal di Medan Sumatera, namun jika kembali ke desa , saya teringat kembali adat dan budaya orang desa di Jawa dan ini yang membuat saya terus teringat pada desa kelahiran saya . Sehingga jika ada waktu luang saya sempatkan untuk menengok keluarga di Jawa Tengah, saya tidak ingin silaturahmi saya terputus dengan mereka “ aku Prof Ahmad Qorib,MA ketika ditemui saat bersilaturahmi ke Demak belum lama ini.

Anak keenam dari delapan bersaudara putera pasangan Bp. Mohtar Amin dan Ibu Hj. Nafiah ini tidak mempunyai cita-cita yang tinggi menjadi seorang Guru Besar seperti saat ini , dia hanya mempunyai harapan bisa bersekolah atau mondok karena dia orang desa dengan kehidupan yang sederhana. Oleh karena itu setelah menamatkan Madrasah Tsanawiyah di tempat kelahirannya iapun melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah dan nyantri di Pondok Pesantren Mbah KH. Bisri Musthofa Rembang. Setelah menamatkan sekolahnya ia berkeinginan terus melanjutkan mondoknya untuk memperdalam ilmu agama secara mendalam , namun demikian pada saat itu kakaknya mendapatkan tawaran untuk mengajar ngaji di Sumatera Utara. Karena kakaknya sudah berkeluarga maka kesempatan itupun dialihkan pada dirinya yang dengan terpaksa iapun menyetujuinya karena dia masih belum berpengalaman.

“ Kalau tidak salah saat itu tahun 1980 , pada waktu itu yang saya tahu Sumatera itu kan pulau Emas sehingga tawaran itu saya terima meski agak berat siapa tahu saya di sana akan punya masa depan “ tambahnya

Pria kelahiran Demak tahun 1958 ini penampilan sehari-harinya cukup bersahaja , namun jika sudah berbicara mengenai pendidikan Islam tidak bisa dihentikan begitu saja karena dia termasuk ahlinya sehingga buah pemikirannya menambah perbendaharaan pada dunia pendidikan Islam. Saat ini dia merupakan Guru Besar Ushul Fiqh di fakultas Syariah IAIN SU ( Sumatera Utara Medan namanya lengkapnya Prof. Dr. Ahmad Qorib,MA namun teman dekatnya cukup memanggil pak Qorib saja. Meski sudah menyandang gelar Profesor namun putera Kelahiran Desa Mutih Kulon kecamatan Wedung kabupaten Demak ini penampilannya masih seperti dahulu karena dia mengaku berasal dari desa sehingga kehidupannyapun tidak lepas dengan adat dan budaya desa.

“ Meski saat ini saya tinggal di Medan Sumatera namun jika kembali ke desa , saya teringat kembali adat dan budaya orang desa di Jawa dan ini yang membuat saya terus teringat pada desa kelahiran saya . Sehingga jika ada waktu luang saya sempatkan untuk menengok keluarga di Jawa Tengah, saya tidak ingin silaturahmi saya terputus dengan mereka “ aku Prof Ahmad Qorib,MA ketika ditemui saat bersilaturahmi ke Demak belum lama ini.

Anak keenam dari delapan bersaudara putera pasangan Bp. Mohtar Amin dan Ibu Hj. Nafiah ini tidak mempunyai cita-cita yang tinggi menjadi seorang Guru Besar seperti saat ini , dia hanya mempunyai harapan bisa bersekolah atau mondok karena dia orang desa dengan kehidupan yang sederhana. Oleh karena itu setelah menamatkan Madrasah Tsanawiyah di tempat kelahirannya iapun melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah dan nyantri di Pondok Pesantren Mbah KH. Bisri Musthofa Rembang. Setelah menamatkan sekolahnya ia berkeinginan terus melanjutkan mondoknya untuk memperdalam ilmu agama secara mendalam , namun demikian pada saat itu kakaknya mendapatkan tawaran untuk mengajar ngaji di Sumatera Utara. Karena kakaknya sudah berkeluarga maka kesempatan itupun dialihkan pada dirinya yang dengan terpaksa iapun menyetujuinya karena dia masih belum berpengalaman.

“ Kalau tidak salah saat itu tahun 1980 , pada waktu itu yang saya tahu Sumatera itu kan pulau Emas sehingga tawaran itu saya terima meski agak berat siapa tahu saya di sana akan punya masa depan “ tambahnya

Setelah sampai di Sumatera akhirnya saya mendapatkan tugas sebagai guru ngaji di surau atau musholla yang pada waktu itu memang masih jarang di sana. Berkat kebaikan bapak asuhnya iapun disekolahkan di IAIN SU yang katanya agar mempunyai masa depan , namun kewajibannya mengajar ngaji terus tiada henti. Setelah bebarapa lama kuliah iapun menyelesaikan studinya di IAIN dengan menyandang gelar Sarjana, dan dengan bekal Ijasah Sarjana itupun ia melamar pekerjaan sebagai PNS dan diterima sebagai Dosen .

Setelah berkecimpung di dunia pendidikan itulah maka semangat belajarnya terus tumbuh tiada henti sepertinya ia haus akan ilmu. Dengan modal beasiswa dari pemerintah iapun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi S2 sehingga , gelar Masterpun di sandangnya dibelakang namanya. Keinginannya untuk belajar kian tidak pupus apalagi teman-temannya sesama dosen terus menyemangatinya yang akhirnya ia melanjutkan pendidikan S3 di UIN Jakarta , meski harus bolak-balik Medan – Jakarta. Buah ketekunan itu akhirnyapun diraihnya dengan tambahan satu gelar lagi di depan namanya. Untuk melengkapi semuanya itu iapun kembali diuji ketekunannya untuk memperoleh gelar Profesor yang tidak pernah ia dambakan sejak dulu .

Alhamdulillah berkat ketekunannya itu gelar itupun disandangnya sekaligus dikukuhkan sebagai Guru Besar di IAIN SU oleh Prof Dr Nur Ahmad Fadhil Lubis, MA Rektor IAIN-SU bersama 6 guru besar lainnya dalam acara resmi di Aula IAN-SU Jalan Williem Iskandar Medan Estate, Rabu (30/12).

“ Ya saya menjalani kehidupan ini bak air mengalir begitu saja, tidak mempunyai cita-cita yang muluk-muluk kita jalani kehidupan ini apa adanya dan juga seadanya , oleh karena itu saya sarankan pada generasi muda yang saat ini masih belajar. Teruslah belajar dengan tekun dengan ketekunan itu apa yang anda harapkan akan tercapai meski penuh rintangan “, tambahnya

Ketika ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Jawa , Guru Besar asli Demak ini mengaku sudah kerasan di Medan karena dia menganggap Jawa dan Sumatera tidak ada perbedaannya. Apalagi di sana sudah banyak PUJAKESUMA ( Putra Jawa Kelahiran Sumatera) yang cukup banyak juga baik persatuannya , apalagi istri yang ia sunting dan telah mempunyai putera 3 ini asli orang sana. Selain itu yang membuat ia kerasan di sana toleransi antar umat beragama cukup bagus , malah bisa dibilang paling toleran di seluruh Indonesia yang bisa dijadikan contoh pada tempat lain. Namun demikian meski telah puluhan tahun tinggal di Medan jika ada waktu luang iapun masih menyempatkan tengok-tengok keluarga di Jawa.

“ Mumpung ada waktu luang bulan ini saya pergunakan waktu untuk tengok keluarga di Jawa, kemarin di Semarang, hari ini di Demak , dan untuk waktu selanjutnya saya akan ke Rembang dan Surabaya untuk nyambangi sanak saudara yang lama tak jumpa “, ujar Prof. Dr. Ahmad Qorib ,MA menutup sua.

*)sumber: http://sosok.kompasiana.com/