Min ‘alaamaatil I’timaadi ‘alal ‘amali nuqshaanur rajaa-i ‘inda wujuudiz zalali

Itulah kalimah Hikam yang pertama. Disebut “Hikam” kata jamak dari kata “Hikmatun”, artinya kata-kata yang berguna. Biasanya kata-kata hikmah itu singkat, tapi tegas dan luas. Hikam atau kata mutiara. Setengah dari pada tandanya menjagakan kepada amalnya, ibadah atau perbuatannya, atau usahanya, yaitu turun harapan atau tipis harapannya ketika menemui kemacetan atua kegagalan atau kenegatifan atau kesalahan, disengaja atau tidak.

Ketika mengalami atau menemui kesalahan dalam usaha atau ibadahnya lalu tipis harapan. Pesimis, kecil hati. Tapi kalau mengalami keberhasilan atau kemajuan, menjadi tambah atau menjadi besar harapan. Besar hati atau optimis. Itu tadi setengah dari tandanya menjagakan amal. Amal jawarih seperti dzikir, sembahyang, puasa dan lain-lain. Atau ya bahkan amal anggota lahir dan bathin mestinya, terutama amal anggota lahir. Karena kalau amal batin, bagi orang yang sudah bisa menggunakannya, lebih selamat. Adapun amal lahir seperti baca sholawat, dzikir atau mujahadah sekalipun dan sebagainya, amalan yang secara langsung kepada Tuhan seperti sembahyang, baca Qur’an, dzikir dan sebagainya. Atau amal-amal ayng hubungan di dalam masyarkat seperti zakat atau menolong atau memberi sedekah memberi petunjuk dan sebagainya. Itu semua jika tidak tepat atau salah, menjadi tipis harapan. Harapan berhasil, harapan diridloi Tuhan, atau harapan selamat.
Itu semua bagai oran yang masih menjagakan kepada amal-amalnya. Yaitu mereka yang masih tebal nafsunya. Masih dikuasai nafsu lalu mengaku bisa berbuat begini bisa begitu, bisa beramal dan sebagainya. Sehingga menjagakan atau membanggakan kepda amalnya atau usahanya. Malah di sini seterusnya disebutkan:
“Orang yang menjadi tipis harapan ketika menemui kesalahan atau kenegatifan yaitu orang yang menjagakan amalnya tadi, ialah ‘ubbad yaitu orang ahli ibadah lahir, dan mereka muriiduun yaitu orang yang menginginkan wushul atau sadar kepada Allah SWT”. Kalau ditegaskan ‘ubbad atau muriiduun ya otomatis mereka begitu, karena mereka belum sadar. Pasti!

Kalau salah atau berkurang, itu menjadi berkurang harapannya. Otomatis karena mereka belum sadar kepada Allah SWT.

Wal mu’tamidu ‘alaa dzaalikal ‘ubbaadu wal muuriiduuna, fal awwaluuna ya’tamiduuna ‘alaihaa fii dukhuulil jannati wat tana’ ‘ummi fiihaa wannajaati min ‘adzaabillaahi ta’aala wal aakharuuna ya’tamiduuna ‘alaihaa fil wushuuli ilallahi wakasyfil astaari ‘anilquluubi wa hushuulil ahwaalil qaa-imatibihaa…. ila akhir…

Golongan pertama, orang ahli ibadah itu diinginkan syurga. Atau istilah lain selamat dunia dan akhirat. Dan syurga yagn tinggi yang megah dan sebagainya. Adapun muriiduun yaitu murid—orang yang menghendaki. Menghendaki wushul atau sadar kepada Allah SWT. Muriiduun atau saalikuun dalah satu hal sama. Tapi sebenarnya yang dimaksud muriiduun itu orang yang baru melangkah atau akan melangkah, dan saalikuun orang yang sudah atau sedang berjalan. Tapi itu tadi kalau kedua kata itu berjajar. Sedang kalau itdak berjajaran, terpisah, yang dimaksud saalikuun juga muriiduun.

Jadi kalau muriiduun, mereka menjagakan amalnya untuk wushul kepada Allah SWT kalau saya mujahadah mempeng, giat, pasti cepat mencapai wushul atau sadar. Itu fikiran mereka. Lha kedua kelompok, ubbad dan muuriduun tersebut di dalam menjagakan amal mereka, itu terkecam. Mengapa terkecam ?. Sebab ya itu tadi masih mengaku . Mengaku bisa amal bisa berusaha. Masih memandang kepada nafsunya. Memandang kepada pribadinya. Aku ada, dan aku bisa berbuat bisa beramal. Ini tercekam, sebab bukankah sesungguhnya “laa haula walaa quwwata illah billah” ? Kok dia mengaku ada, mengaku bisa berbuat bisa beramal dan sebagainya. Itu tercekam.

Para hadirin hadirot mari kita koreksi !. Mari kita koreksi keadaan kita masing-masing. Terutama ini soal yang pokok. Sebelum kita melangkah, harus sudah kita deder tanaman itu. Harus kita dasari memakai dasar yang teguh dan kuat. Ibarat bangunan, itu pondasinya. Bangunan yang tidak ada pondasinya yang kukuh pasti hancur. Begitu juga amal perbuatan. Kalau tidak ada pondasi ini, otomatis hancur tak berguna !. Hancur menjatuhi kepada yang membangun. Ngebruki atau menjatuhi soal dunia itu sudah berat, lebih-lebih ngebruki soal akhirat, itu lebih berat.

Itu tadi soal taukhid yang penting dan pokok sekali. Bagaimana kita di dalam mujahadah, di dalam kita beramal, apakah harapan kita tetap atau berubah-ubah pasang surut, menurut keadaan kita, itu berarti belum tepat. Kalau hati kita pasang surut raja ’-nya atau optimisnya, pasang surut berubah-ubah menurut keadaan kita, berarti itu tidak tepat!. Mestinya harapan itu harus hanya diarahkan kapada Allah SWT. Kok lalu diarahkan kepada amal kita, itu makanya tidak tepat. Kalau perlu ini suul adab !. Salah alamat!.

Mari kita dirikan pandemen di dalam hati sanubari kita. Pandemen dari segala amal yaitu taukhid di dalam hati sanubari kita yang sekokoh-kokohnya !. jangan sampai kita menjagakan kepada amal kita. Kalau ketika sregep menjadi besar harapan tapi ketika sedang glonjom lalu tipis harapan. Itu namanya masih memper-tuhan-kan kepada nafsunya, kepada amalnya, kepada usahanya. Kita harus memandang kepada Allah SWT. Sekalipun bagaimana giat kita, tapi kita harus tetap takut kepada Allah SWT. Sebab hanya Allah yang hanya ditakuti. Sekalipun bagaimana baiknya keadaan kita. Sekalipun bagaimana ngglonjom-nya kita, kita harus tetap mengharap kepada Allah SWT. Mengharap kepada Allah SWT. Karena sifat Tuhan, pemberian Tuhan tidak digantungkan kepada keadaan atau usaha kita. Sebelum ada apa-apa, Allah SWT sudah “warohmatii wasingat kulla syai-in” – Bismillahir rohmanir Rohiim seperti permulaan tadi. Sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan kita karena ngglonjom atau giat, sama sekali tidak.

Lha kalau begitu, Nabi Adam ‘alaihis-salam itu salah semua, misalnya. Jangan begitu, jangan tergesa-gesa menyalahkan suatu persoalan sebelum menguasai dengan sepenuhnya. Segala sesuatu yang bersangkutan dengan persoalan. Kalau memang sudah menguasai suatu persoalan secara obyektif, secara menyeluruh, itu boleh menyalahkan sesuatu, Menguasai jumlah dan tafsil-nya sampai menyeluruh. Baru boleh menyalahkan.

Para hadirin-hadirot. Ketika kita ngglonjom, kita diperintah supaya mengecam kepada pribadi kita sendiri. Tapi ketika kita baik keadaannya, fal-nahmadillah – kita harus muji kepada Allah SWT. Muji atau syukur kepada Allah SWT dan terima kasih kepada makhluk lain yang ada hubungan dengan baiknya keadaan kita, soal moril atau materiil. Tapi kalau buruk keadaan kita falaa taluumanna ilia anfusana. Jangan mengecam selain kepada diri kita sendiri. Dan di dalam kita mengecam diri pribadi itu harus didasari LILLAH. LILLAH BILLAH istilah wahidiyah. Dan itu harus senantiasa menjadi dasar dalam segala gerak kita. Itu tuntutan islam. Tuntutan Rasulullah SAW. Bahkan tuntutan segala agama yang berTuhankan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk Tuhan dan sebab Tuhan. Yang berbeda hanya istilahnya saja mungkin. Bahkan bagi kita bangsa Indonesia yang punya Pancasila sila pertama Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Harus mendasari segala amal perbuatan kita dengan LIL-TUHAN dan BIL-TUHAN YANG MAHA ESA!

Mari para hadirin-hadirot, sekali lagi kita mengecam kepada diri kita sendiri, tapi harus didasari LILLAH BILLAH. Diwaktu kita ngglonjom kok mengharap, tapi dalam satu hal terkecam. Terkecam ! Dalam Al-Qur’an ada kata-kata “ilia amaaniyya”. Yaitu orang yang hanya menduga-duga. Nglamun. Mengharap agar roja’ tapi tak mau berjuang tak mau usaha, itu namanya nglamun. Bukan raja’. Ini terkecam. Yang dinamakan mengharap atau raja’, sekalipun tidak harus menjagakan amalnya, perbuatannya, ibadahnya, tapi harus, harus giat berusaha. Bersungguh-sungguh bermujahadah. Jadi jangan sampai kita salah faham atau salah menempatkan segala bidang di masing-masing tempatnya. Kalau kita salah dalam menempatkan segala sesuatunya di tempatnya, itu namanya DZHALIM.

Difinisi Dzhalim yaitu :menempatkan sesuatu bukan ditempatnya. Begitu juga kalau kita menjagakan amal, itu namanya salah alamat. Dzhalim! Mestinya harus menjagakan kepada TUHAN, kok menjagakan kepada amal, itu Dzhalim.

Sekalipun ngglonjom, tetap harus menjagakan kepada Tuhan !. Tapi dalam pada kita menjagakan kepada Tuhan kok tidak mau berbuat atau berusaha, itu namanya ,“amany” – lamunan. Dan ini terkecam. Jadi sekalipun mengharap atau roja’ kepada Tuhan itu penting, tapi yang lebih penting lagi, lebih prinsip adalah tepatnya. Hubungan ini mungkin, orang yang selalu kuat tekun non stop usahanya, mujahadahnya, tapi tidak ada raja’ kepada Tuhan, melainkan menjagakan kepada amalnya, mungkin masih lebih baik orang yang kurang tekun amalnya, sering istirahat, tapi dia tepat. Tapi kita harus sebanyak mungkin dan setepat mungkin. Ini seharusnya. Tapi al aham setepat mungkin . Jadi yang penting, yang prinsip yaitu setepat mungkin. Dan Insya Allah kemampuan kita masih banyak untuk usaha setepat mungkin, dan sebanyak mungkin. Jadi jangan sampai kita menyalah gunakan. Misalnya, “ahh… biarlah sedikit saja asal tepat, sekalipun banyak kalau tidak tepat, itu tak berarti”, dan sebagainya. Itu namanya menyalah gunakan. Tidak boleh dan otomatis terkecam. Terkecam karena menyalah gunakan. Dus, sekali lagi kita harus setepat mungkin dan sebanyak mungkin. Al aham, yang lebih prinsip, “setepat mungkin” . Istilah umum, kualitas atau kualitet. Adapun kuantitas atau banyaknya, itu nomor dua. Atau isi atau mutu dari pada itu semua. Kualitas. tapi kita harus berusaha mengisi kedua hal itu. Ya kualitas ya kuantitas.

Itu umum, soal apa saja. Misalnya soal LILLAH BILLAH. Yang paling pokok adalah BILLAH. Karena hubungan dengan tauhid. Dan LILLAH hubungan dengan ‘ubudiyah. Tapi ya itu tadi mungkin lalu disalah gunakan. Kalau berani menyalah gunakan itu berarti bunuh diri. jadi yang paling prinsip BILLAH atau tauhidnya. Tapi kita harus usaha bersama-sama mengisi BILLAH dan LILLAH. Haqiqot dan syariat. Begitu juga hubungan raja’ dan ikhtiar atau usaha.

Kembali lagi kepada pengajian. “Setengah dari pada alamat atau tanda menjagakan amal, tidak menjagakan Tuhan tapi menjagakan amal, yaitu nuqshonur-raja’ berkurangnya harapan atau pesimis ketika dalam keadaan terpeleset”. Wahidiyah harapan tipis dapat selamat dunia akhirot, dapat diridloi Allah, atau dapat wusul kepada Tuhan, ketika sedang dalam keadaan maksiat, ketika dalam keadaan ngglonjom. Itu namanya menjagakan amal atau usahanya, tidak menjagakan kepada Tuhan. Istilah Wahidiyah menjagakan nafsu, tidak menjagakan kepada Allah !. Para hadirin-hadirot, mari soal yang pokok kita tempatkan juga pada yang pokok juga. Kita harus “yukti kula dzii haqqin haqqoh”. Soal pokok harus ditempatkan pada yang pokok, dan yang kurang pokok juga pada tempatnya masing-masing. Dan seterusnya. Kata Sayyidina Alli karramallahu wajhahu:

Maa halaka amru-u ‘arafa qadra nafssihi

(Tidak akan mengalami kerusakan orang yang tahu akan kedudukannya)

Kebalikan dari ini ialah dzhalim tadi. Yaitu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Wa min ‘alaamati kaunihii minal ‘aarfiina fanaa-uhuu min nafsihii, fa-idzaa waqa’a fii zallatin au ashaabahuu ghaflatun syahida tashriifal haqqi fiihi wa jazayaana qadlaa-ihii ‘alaihi kamaa annahuu idzaa shadara minhu thaa-‘atun au laahullahuu musyaahadatun qalbiyyatun lam yara fii dzaalika haulahuu wa quwwatahu. Falaa farqa ‘ndahuu bainal haalaini li-annahuu ghaariqun fii bihaarit tawhiidi qaadistawaa khaufuhuu wa rajaa-uhuu.. ila akhir…

Otomatis yang dikatakan ‘ubbad yang menjagakan amalnya tadi orang ahli ibadah yang belum sadar. Ada kata-kata:

Man shalla khamsan fii awwali aw qaatihaa summiya ‘aabidan

(Orang yang sembahyang lima waktu pada awal waktu, di samping ibadah lain-lain, itu dinamkan ‘abidan—ahli ibadah)

Man kharaja ‘anid dun-yaa summiya zaahidan

(Dan orang yang keluar dari dunia, orang yang menjauhi dunia, fanak atua rusak pandangannya terhadap dunia, dinamkan orang yang bertapa atau zaahidan)

Man kharaja ‘an nafsihii summiya ‘aarifan

(Barang siapa yang keluar dari nafsunya, yang bebas dari nafsunya, dinamankan orang yang ‘Arif, orang yang sadar kepada Allah SWT)

Tapi ya bisa merangkap-rangkap. Artinya Al ‘Arif adalah orang yang sadar kepada Allah, dan di samping itu juga ahli ibadah dan zuhud—bertapa. Ada istilah:

Al ‘aarifu kaa-inun baa-inun

Orang ‘Arif itu kaainun. Tetapi, ada di antara manusia yang lain. Dalam bidang apa saja, segala bidang. Tapi baainun—dia di luar manusia. Wujudnya ya sama-sama ke pasar, ya sama-sama tukang jahit, ya sama-sama ke sawah, tapi yang satu hanya lahiriyahnya saja, dan yang satu lagi luar dan dalam.

Al-‘aarifu dhaahiruhuu ma’al khalqi wa baathinuhuu ma’allaahi

Orang ‘Arif, lahirnya bersama makhluk, tapi batinnya bersama Allah.

Yaa, mudah-mudahan para hadirin-hadirot, pengajian pagi ini diridloi Allah wa Rasuulihi SAW, membuahkan manfaat yang sebanyak-banyaknya. Menjadi sebabnya kita sadar dan meningkat kesadaran kita kepada Allah wa Rasuulihi SAW. Amiin.. Amiin..

Laman: 1 2