Menangis, merupakan suatu ekspresi yang ditunjukkan manusia dalam menanggapi sesuatu, baik itu sedih ataupun senang, kendati umumnya menangis dialamatkan sebagai apresiasi bagi kesedihan. Jika ditelaah mendalam, ternyata menangis merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia, bahkan jika bayi yang lahir tanpa menangis, maka bayi ini diindikasikan tidak sehat. Setiap manusia tentu pernah menangis, setidaknya saat dia dilahirkan ke dunia ini. Mungkin bagaimana seseorang yang tidak pernah menangis dalam hidupnya, tidak sanggup kita bayangkan?

Menangis bisa menjadi alat ukur untuk mengukur halus kasar perasaan seseorang, orang yang cepat menangis diindikasi memiliki perasaan yang halus, sedangkan orang yang tidak cepat menangis diindikasikan memiliki perasaan yang keras, demikian diasumsikan orang. Menangis bisa menjadi alat untuk melihat respon seseorang terhadap sesuatu masalah yang diutarakan, pesimiskah dia atau optimis.

Menangis bisa juga sebagai alat untuk memuluskan rencana, bahkan meluluhkan hati seseorang untuk mendukung rencana orang yang menangis. Menurut Oren Hasson, seorang ilmuwan dari Universitas Tel Aviv, Israel, mengungkap bahwa menangis  dapat dijadikan sebagai penghalang keagresifan yang dimiliki seseorang, sebab air mata seseorang sebenarnya tengah menurunkan mekanisme pertahanan dirinya dan memberikan simbol dirinya menyerah. Di dalam relasi kelompok, menangis bisa dianggap sebagai bentuk keterpaduan antara satu dengan lainnya. Pastinya, menangis memiliki mamfaat bagi manusia, baik mamfaat itu baik atau pun jahat.

Ibnu Qayyim Al-Jauzi membagi menangis dalam 10 Jenis, menangis karena kasih sayang dan kelembutan, menangis karena takut, menangis karena cinta, menangis karena gembira, menangis karena penderitaan, menangis karena terlalu sedih, menangis karena terasa hina dan lemah, menangis untuk mendapatkan kasihan orang, menangis karena ikut-ikutan, dan menangis pura-pura atau munafik.

Kendati Ibnu Qayyim telah membaginya, namun dalam praktiknya kita tidak dapat menilai seseorang yang menangis, apakah itu benar atau pura-pura. Bisa saja kedustaan dibungkus dengan menangis, sehingga terkesan menjadi kebenaran, bisa saja kebohongan dihiasi dengan air mata menjadi kebenaran dan fakta. Dalam Islam, baik tertawa atau pun menangis harus proporsional dan tetap berada dalam batas-batas kesopanan dan kebenaran, tidak boleh melampaui batas-batas kewajaran yang dibenarkan agama. Menangis karena ditinggalkan orang yang dicintainya tidak boleh sampai ke tingkat meratap apalagi sampai meraung-raung.

Menangis ideal dan wajar telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah dan ahlul arif billah terdahulu, sebut saja Imam Sufyan ats Tsauriy, beliau menangis tatkala kematian hampir datang kepadanya, maka berkata salah seorang yang hadir kepada beliau“Wahai Abu `Abdillah apakah dikarenakan banyaknya dosa tangisan ini?” Maka beliau menjawab “Tidak, akan tetapi saya khawatir akan dicabutnya keimanan ini sebelum kematian.(Mukhtashar Minhaajul Qaashidiin hal. 391). Salma Al-Farisi menangis menjelang wafatnya, lalu ditanyakan kepadanya, “Mengapa engkau menangis padahal engkau adalah Sahabat Rasulullah?” Lalu beliau menjawab “Aku sama sekali tidak menangis karena menyesal akan dunia atau karena cinta akan dunia, Aku menangis karena Rasulullah mengikat janji dengan kami agar kehidupan kami hendaklah seperti seseorang yang ada dalam perjalanan, tetapi kami meninggalkannya,” lalu diperlihatkan kepadanya harta yang ia tinggalkan dan ternyata sebanyak dua puluh dirham lebih atau tiga puluh dirham lebih (Adabud Dun-yaa wad Diin, halaman 119).

Umar bin Khattab, terkenal sebagai sahabat yang tegas dan keras, Beliau pernah mendengarkan seorang laki-laki sedang membaca, “Sesungguhnya azab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya” [QS. Ath-Thur: 7-8]. Kemudian Umar pun menangis dan tangisannya semakin menjadi-jadi. Maka ditanya tentang hal tersebut. Ia pun menjawab Tinggalkan aku sendiri! Karena aku telah mendengar sumpah yang haq itu dari Rabbku.

Menangis memang luar biasa, menangis telah tercatat dan mengubah sejarah dunia, Nabi Adam menangis selama 300 tahun memohon ampun kepada Allah, air matanya keluar bercucuran bagai aliran sungai, dari air matanya itu Allah telah menumbuhkan pohon kayu manis dan pohon bunga cengkeh. Beberapa ekor burung meminum air matanya, lalu burung-burung itupun berkata “Sungguh manis air ini”, mendengar ini, tangis nabi Adam bertambah keras.

Suatu hari Rasulullah SAW. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, “Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah.” (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, “Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku.” Nabi berkata padanya, “Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu.”


Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, “Kenapa engkau menangis?” istrinya menjawab, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis”. Abdullah berkata, “Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak.”

Rasulullah Saw. bersabda : “Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka.” Beliau juga bersabda, “Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya.”

Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?”, “Iya” jawab Nabi. “Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan.”

Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, “Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya.”

Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah di atas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.

Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Jujur saja, jangankan kita menangisi dosa-dosa kita, mengaku dosa saja, rasanya kita sulit sekali.. Astaghfirulloh…