Marhaban yaa marhaban yaa marhaban,
marhaban jaddal husaini marhaban.
Yaa nabii salaam ‘alaiika yaa rasuul salaam ‘alaika.
Yaa habiib salaam ‘alaika shalawaatullaah ‘alaika.
Asyraqal badru’alainaa fakhtafat minhul buduruu.

“Selamat datang, selamat datang
wahai kakek Hasan dan Husein, selamat datang.
Wahai Nabi, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu.
Wahai Rasul, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu.
Wahai kekasih, semoga kesejahteraan selalu melimpah kepadamu.
Semoga rahmat Allah selalu tercurah kepadamu.
Telah terbit bulan purnama kepada kita,
maka bersembunyi dan suramlah semua bulan
karena soratan cahaya purnamamu….”

(Maulid Al-Barzanjie)

“Izinkan aku memujimu, ya, Rasulallah?!” pinta sahabat Abbas Ibn Abd Al Muthallib kepada Rasulullah SAW. “Silakan, maka Allah akan menjaga bibirmu.” Tandas Rasulullah, lembut. Lantas Abbas memuji Rasul dengan perkataan-perkataan indah seperti ini: ” … dan ketika kelahiranmu, terbitlah cahaya di bumi seterang-terangnya. Langit bercahaya dengan cahayamu. Kini kami bernaungkan cahaya itu, serta diteduhi tuntunan kemuliaan kami kian mendalami.” (Mustadrak Ala Shahihain, hadist nomor 5417)

Dan pula saya teringat sebuah hadist seperti ini:

Rasulullah SAW bersabda: “Ketika Adam as melakukan kesalahan, beliau berkata, ‘Ya, Tuhan. Dengan kebenaran Muhammad, aku meminta kepada-Mu pengampunan.’ Allah bertanya, ‘Hai, Adam. Bagaimana kau bisa tahu ihwal Muhammad, sedang Aku belum menciptakannya?!’ Adam menjawab, ‘Ketika dengan kuasa-Mu Kau meniupkan ruh kemudian menciptaku, kepalaku mendongak di tiang Arsy yang bertulis: Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah, lantas aku tahu bahwa Kau tidak akan menyandarkan ke nama-Mu selain makhluk yang paling Engkau cintai.’ Allah berkata, ‘Kau benar, Adam. Muhammad adalah makhluk yang paling Aku cintai. Kau telah berdoa dengan menyebut kebenaran Muhammad, maka Aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, tak akan sekalipun Aku menciptamu’. ”

(Hadist tersebut bisa dibaca dalam karya Imam Al Hakim yaitu al Mustadrok, juz 2, halaman 615. Juga bisa ditemukan di risalah Al Bidayah Juz 1, halaman—kalau tak salah—180, karya imam Ibn Katsir. Para imam seperti Al Haitami, Al Qushthulani, Al Bulqini, Al Thabrani, hingga Ibn Al Juzie menisbatkan title sahih pada sanad hadist tersebut.)
Perayaan maulid tak pernah diadakan di masa Rasulullah SAW. Syaikhul Al Azhar Syaikh Athiyah Shaqr benar, ketika beliau ditanya tentang sejarah mauludan, beliau berkata: “Tak ada sejarawan yang mengetahui adanya seseorang yang merayakan mauled sebelum dinasti Fatimiah.” Nah, memang sejarah membenarkan adanya permulaan mauled di dinasti Fatimiah.

Akan tetapi jika mengingat rentetan sejarah mauludan, maka kita akan terbawa pada kisah perang salib yang dicantumkan nama Sultan Salahuddin Al Ayyubi ra sekitar tahun 579 H., dan bertepatan tahun 1184 M. Sejarah mencatat bahwa dengan semangat persatuan yang berhasil dihimpun, pasukan Saladin ra mampu menguasai Jerussalem dari tangan Eropa pada tahun 583 H., atau bertepatan pada tahun 1187 M.

Awal mula maulid berasal dari dinasti Sayyidah Fathimiah rha, yang setelah tumbang dan diganti dinasti Ayyubiah perayaan maulid masuk fase vakum dan selanjutnya tergelar kembali.
***
Tahun 1099 M, ketika Jerussalem dikuasai batalyon dari Eropa. Masjid agung Al Aqsha diubah menjadi gereja. Semangat kristiani berhasil menyiutkan epos jihad kaum muslimin di alam raya. Semarak salib berdendang dan menggema. Berbagai tempat digemakan mars dan puji-pujian tentang kebesaran agama mereka. Natal, paskah, dan lain-lain, kian menciutkan nyali. Orang bilang: hidup segan, mati tak mau!

Disalah satu tempat, terdapatlah sedikit koloni muslim yang mempunyai rutinitas prosesi semacam puji-pujian kepada Rasulullah SAW. Awal dari situlah dimulai sejarah.

Untuk mengimbangi perayaan Natal oleh umat kristiani. Asumsinya sederhana, kebersamaan dan implikasinya. Meski diawali dari sekumpulan yang sedikit, lambat laun imbasnya melegenda. Maka, Sultan Salahuddin Al Ayyubi ra pada waktu itu menyelenggarakan sayembara kepada sekalian umat muslim berupa penulisan riwayat terbaik dari pribadi mulia utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sejarah dimulai ketika Sultan Salahudin ra (ketika itu Sultan Saladin ra adalah penguasa dua Kota Suci—Makka, dan Medinah) atas gagasan adik ipar beliau yang bernama Muzaffaruddin Ghekburi (seorang Atabeg di daerah Irbil, Syria Utara), meminta ijin kepada Khalifah Al Nasheer, di Baghdad, agar diberi kewenangan memberikan intruksi kepada umat islam (yang sedang berhaji) pada waktu itu agar memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ketika kembali ke kampung masing-masing.

Doktrin Sang Sultan pun tak berarti tanpa ada sentilan. Para ulama sekitar Sultan memberikan kritik. Kita hanya merayakan dua hal; Idul Fithri dan Idul Adha, kata mereka. Karena mengetahui, angkatan terbaik adalah sahabat, dan pada waktu itu tak ada adat Mauludan di masa sahabat. Dan jikalau perayaan hari kelahiran Rasul adalah hal baik, pasti masa sahabat dan salafus shalih adalah lebih pantas meng-adatkannya.
“Aku hanya mengharap terbentangnya syiar Islam. Bukan hanya sekadar perayaan yang bersifat ritual belaka, tapi lebih. Lebih karena mencintai Rasulullah, dan lebih karena ingin menumbuhkan semangat juang.” kata Salahuddin Al Ayyubi ra.

Maka, terbentanglah sayembara, dan jadilah nama Syekh Ja’far Al Barzanjie ra (Syekh Ja’far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya kalung permata)  sebagai pemenang sayembara penulisan riwayat Rasulullah yang digelar Sultan Salahuddin ra dengan tata kata yang indah, yang karya beliau dijadikan bacaan kaum muslimin waktu itu untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ketika masa genting perang salib, dan masih terlantun di lisan-lisan di sebagian besar kaum muslim di Indonesia di masa sekarang yang tentram dan tak berjibaku. Dan konon, atas latar belakang inilah batalyon Eropa berhasil ditumbangkan Salahuddin Al Ayyubi ra.

Menurut kami, hal baru, yang tidak ada dalam masa Rasulullah para pendahulu, tidak serta merta langsung di-justifikasi sebagai bid’ah sesat. Ibn Taimyyah pernah berkata, “seorang muslim yang melaksanakan perayaan maulud dengan niat yang tulus dan atas dasar cinta kepada Nabi SAW, maka akan mendapat pahala, akan tetapi bukan karena bid’ahnya.” Cukuplah fatwa beliau sebagai dasar kebolehannya.

Tak perlu menyebut terlalu banyak referensi tentang beberapa jenis bid’ah, yang pasti, untuk meringkas kata, kita sebut saja nama risalah Fath Al Bari juz 11, Syarh Imam Nawawi Ala Shahih Moslem Juz 12 hal. 93, Shahih Moslem hadist no. 1017, Al Mawahib Al Ladunia juz 1 hal 148, yang menerangkan sebuah kesimpulan: husnul maqasid fi amal al maulid, kebaikan nomaden dalam ritual maulid. Dan sepertinya perkataan Imam Al Hafidz Syamsuddien Ibn Nasheeruddien al Dimisyqie akan menutup tulisan ini: “salah satu bid’ah hasanah adalah peringatan maulid di hari maulid.”

Ada ucapan baik yang saya senangi dari kata Syekh Al Qardlawi: “Dalam kehidupan selalu ada prioritas, dan hal ini adalah kebutuhan yang niscaya. Pun dalam islam.” Begitu kata beliau.

Mungkin Qardlawi benar, Agaknya perayaan maulud hanya hegemoni atau anomaly yang berlebihan di masa-masa sekarang. Itu jika dikaitkan dengan keprihatinan beliau melihat kaum yang masih belum seimbang dengan perayaan yang megah-megahan. Akan tetapi, tetap, beliau tak mengingkari ‘menyambut hari kelahiran Rasulullah’ adalah kebaikan yang berpahala. Meski, beliau tak begitu senang ketika umat lebih mementingkan hal yang sunnah daripada yang wajib, karena ada prioritas lain yang lebih signifikan dibahas daripada menghabiskan uang untuk sekadar perayaan. Menyantuni anak yatim, misalnya. Toh hal itu menjadi tuntutan. (Versi terjemahan buku beliau berjudul Fiqh Prioritas. Dalam bab Prioritas Wajib Atas Sunnah.)

Sebagai makhluk sosial, bermasyarakat, dan hidup di lingkungan yang majemuk, saya akan selalu menghormati pendapat  yang kurang atau tak senada dengan tulisan ini.

Sebagai penutup, mari kita sanjungkan sholawat atas Nabi Agung Tercinta dan Terkasih:

Yaa Rabbanallaahumma shalli sallimi
‘alaa Muhammadin syaafii’il umamiy
wal aali waj’alil anaama musri’iin
bil wahidiyyati li Rabbil ‘alaamiin
Yaa Rabbanaghfir yasirriftah wahdinaa
qorrib wa allif bainanaa yaa Rabbanaa

(bagian dari shalawat wahidiyah)

Yaa Tuhan kami, limpahkanlah rahmat dan salam atas Junjungan kami Nabi Muhammad saw, Pemberi syafa’at umat dan atas keluarga Beliau yang mulia
dan jadikanlah seluruh umat manusia cepat-cepat lari, sadar bertauhid kepda-Mu Tuhan semesta alam.
Yaa Tuhan kami, ampunilah kami, permudahlah segala urusan kami, bukakanlah hati dan jalan kami, dan tunjukilah kami serta pereratlah persatuan dan persaudaraan di antara kami, yaa Tuhan kami

Wallahu a’lam bish-shawab…

*)dari berbagai sumber