Di saat cabai langka akhir-akhir ini, maka kepedasan cabai terasa setimpal dengan harganya yang melambung hingga Rp100 ribu perkilogram. Level harga yang dinilai telah melampaui level psikologis masyarakat kebanyakan. Sekelas Menteri Perdagangan tak mampu berkata lebih panjang dan lebih memilih untuk angkat tangan.
“Untuk cabai, susah. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, karena ini masalah kerusakan yang terjadi terhadap produksinya yang disebabkan hama dan cuaca,” ungkap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di kantor Menko Perekonomian, Kamis, 6 -1-2011. (kabarbisnis.com)

Rasa pedas menyengat ketika menyantap cabai sering membuat orang kapok meski lebih banyak yang justru ketagihan. Tak heran jika ada istilah “kapok lombok”, yang artinya meski kapok, tapi masih mencari lagi.

Sekalipun Anda yakin tidak bersalah, tapi jika sudah demikian kepepet, tak ada salahnya untuk menggunakan siasat yang satu ini: tobat. Dalam kondisi tertentu untuk mempertahankan diri (self mechanism defense) ada yang dinamakan “kapok lombok”. Ngakunya kapok, kelihatannya tobat, tapi sewaktu-waktu kembali mengulang perbuatan yang sudah dinyatakan kapok tadi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tobat itu artinya sadar dan menyesal akan dosanya (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Bisa pula berarti kembali kepada agama (jalan, hal) yang benar, atau bahkan merasa tak sanggup lagi.

Namun sebagai kata seru, tobat bisa untuk menyatakan rasa heran, kesal, atau sebal. Adapun dalam ragam percakapan, tobat berarti jera (tidak akan berbuat lagi). Nah, arti yang disebut terakhir inilah yang paling dekat dengan kapok. Sebab, sebagaimana dalam kamus itu juga, kapok berarti sudah tidak akan berbuat lagi.

Tapi nanti dulu. Kapok itu juga tidak sekadar kapok. Ada yang disebut “kapok lombok”. Ketika makan dan sambal yang menyertai kelewat pedas akibat lombok (cabe) rawitnya yang “ganas”, tak jarang serta merta orang akan bilang kapok. Apalagi jika pagi harinya terketahui mesti bolak-balik ke kamar kecil atau setidak-tidaknya bagian pelepasan terasa pedih-panas. Maka, kontan akan bilang kapok, “Nggak lagi-lagi, ah.”

Itulah kapok jenis “kapok lombok”. Tobat sambal, idiom lainnya. Lombok memang bisa serta merta bikin orang kapok lantaran pedasnya. Tapi karena itu pula, orang sanantiasa tergiur untuk mengulangi lagi guna merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh pedasnya lombok. Tak peduli lagi bahwa sebentar saja lambung bisa panas karenanya dan “petaka” bakal segera membuntuti di kamar kecil.

Jika untuk urusan lombok “saja” demikian susahnya orang untuk diajak kapok, apakah untuk perkara yang jauh lebih besar, penting, dan substansial, orang akan dengan mudah diajak bertobat? Kalaupun mulut mengikrarkan sebuah pertobatan, lantaran ada kekuatan di luar dirinya yang tak mungkin untuk dilawan, bukankah tidak selalu hati dan pikiran yang tak terkatakan itu mengamini? Jadi, bisakah sebuah pertobatan bermula dari sebuah tekanan, lebih-lebih fisik sifatnya? Jangan-jangan, itu hanya akan memantik sikap merong kempuh jingga mbeguguk ngutha waton, sebentuk perlawanan terselubung, atau malah menjadi laten bagi potensi “kapok lombok” ?

Memang dalam terminologi  agama ada jenis tobat yang paling afdhal, yaitu taubat nasuha, yakni menyesal atas dosa-dosanya, memohon ampun dan berjanji benar-benar tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa melakukan tubat nasuhaa.. Amiin..

 

*) dari berbagai sumber