TV Scrip – Film Anak-anak

Film Pendidikan

Ringkasan Cerita

Kisah ini diangkat dari latar belakang kehidupan anak-anak di desa, di sebuah rumah gubuk terpencil di ujung desa, jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya.

Ulhak (11 tahun – Kelas 4 SD) dan Resti (13 tahun-kelas 6 SD) adalah dua adik berkakak yang sudah yatim-piatu. Keduanya tinggal dengan kakek mereka yang sudah tua dan tidak sanggup bekerja lagi. Beban untuk bekerja jatuh kepada kedua anak di bawah umur ini. Keduanya taat beribadah, diawasi dengan ketat oleh Kakek.
Pada suatu malam, di tempat pengajian, mukenah yang dipakai Resti robek. Mukenah itu adalah peninggalan ibunya, mudah robek akibat termakan usia dan sebenarnya tidak layak pakai lagi. Hanya karena kecintaan Resti sebagai kenang-kenangan ibunya jualah yang membuat mukenah itu selalu dipakainya untuk sholat setiap waktu. . Tuan Guru (Guru ngaji) meminjamkan mukenah agar Resti dapat melanjutkan mengaji. Ulhaq – sang adik – melihat betapa kakaknya (Resti) sangat bersedih. Kakak satu-satunya yang sangat ia cintai, seorang kakak yang baik hati dan selalu melindunginya.

Dari hari ke hari kesedihan hati Resti semakin bertambah. Ulhaq melihat kenyataan itu lalu mencari cara untuk membantu Resti. Hari-hari diisinya di luar, bukan untuk bekerja di ladang. Resti yang sedang sedih semakin sedih. Ulhaq dianggapnya sudah berubah menjadi anak nakal. Tugas harian Ulhaq jatuh ke tangannya. Ingin ia laporkan adiknya itu pada Kakek, tetapi ia tidak mau adiknya dimarahi oleh Kakek. Ia rela menanggung sendiri kesedihannya asal adiknya bahagia. Maka Resti pun diam saja.

Pada suatu hari RESTI diundang untuk menuai padi Pak Usman dengan sistem upah. Kesempatan ini memang selalu dinanti Resti, karena mereka punya bekal. Ketika sedang menuai padi, dikejauhan Resti melihat Ulhaq dan kedua temannya AMIN dan MUNIR  Ketiga anak laki-laki itu mengambil cukup banyak batang padi bekas tuaian. Resti mengerti kalau mereka akan membuat terompet batang padi, maka dibiarkannya saja adiknya.

Adapun Ulhaq, Amin, dan Munir mempunyai rencana sendiri. Ulhaq mengajak kedua temannya itu untuk membantunya. Bentuk bantuannya sendiri tidak diberitahu oleh Ulhaq, dengan janji, kalau sudah berhasil baru diberi tahu. Kedua temannya hanya mengikuti kata Ulhaq dan tidak banyak lagi bertanya.

Setelah mengambil batang padi sebanyak-banyaknya, lalu mengambil daun kelapa muda cukup banyak pula. Batang padi dan daun kelapa itu disimpan di rumah Ulhak. Setelah itu ketiganya berangkat ke bukit Risa untuk mencari jengkerik. Rupanya mereka sudah berjanji dengan teman-teman lain untuk mengadu jengkerik di hari itu.

Setelah ketiganya mendapatkan jengkerik masing-masing, ketiganya berkumpul di halaman Pak Abas. Ada dua kelompok anak yang saling menjagokan jengkeriknya. Ternyata jengkerik Ulhaq, Munir dan Amin memenangkan pertempuran, dan jengkerik-jengkerik lawannya jatuh ke tangan mereka. Ketika itu hampir semua anak-anak sedesa berkumpul untuk menyaksikannya. Maka riuh-rendahlah anak-anak itu, ada yang menari-nari tanda kesenangan, ada pula yang bertepuk-tepuk tangan.

Anak-anak desa menunggu kesempatan seperti itu untuk memiliki jengkerik yang jago. Mereka membawa hasil pertanian mereka sendiri untuk ditukar dengan jengkerik. Ada yang membawa ubi jalar, ada yang membawa singkong, ada pula yang membawa talas.

Inilah kesempatan yang ditunggu Ulhaq. Dengan leluasa ia menawarkan jengkeriknya untuk ditukar dengan ubi jalar, singkong, atau talas. Kedua temannya mengikuti tingkah laku Ulhaq. Hasilnya cukup banyak, lalu dibawa pulang ke rumah Ulhaq.

Di rumah Ulhaq ketiga anak itu melanjutkan membuat terompet dari batang padi. Maksud dan tujuan Ulhaq terbongkar di sini. Ia meminta kepada kedua temannya untuk membuat terompet sebanyak-banyaknya, lalu berkeliling kampung sambil meniup terompet batang padi.

Betapa ramainya desa itu. Ulhaq, Amin dan Munir berbaris melangkah berkeliling desa sambil meniutp trompet. Anak-anak yang masih di rumah pun turun ke jalan, berlomba-lomba menukar hasil tani mereka dengan terompet, lalu masuk dalam barisan Terompet Anak Desa..

Setelah semua terompet habil dijual, Ulhaq dan kedua temannya melepaskan diri dari barisan, membiarkan teman-teman lainnya bergembira. Ketiga membawa pulang hasil yang diperoleh, kemudian dijual ke pasar.
Uang hasil penjualan itu kemudian digunakan membeli sepasang mukenah buat Resti.

Pada akhir kisah, Ulhaq pulang ke rumah sore hari. Kakek dan Resti sudah menunggu untuk diberi pelajaran (dihukum). Resti khawatir adiknya terjerumus menjadi nakal berlarut-larut, dan melaporkan pada Kakek. Ulhaq menyembunyikan sepasang mukenah yang dibelinya di belakang punggungnya. Klimak terjadi ketika Ulhaq menyerahkan sepasang mukenah kepada Resti, buah karyanya setelah beberapa hari meninggalkan tugas, dan disangka sebagai kenakalan oleh Resti dan Kakek.

*) sumber : http://arsyad-ishaka.blogspot.com