Keberhasilan timnas sepak bola Indonesia menembus babak final Piala AFF 2010 membuat masyarakat semakin antusias mendukung dengan berbagai bentuk. Dari mulai nonton bareng layar lebar di berbagai tempat, antri berdesak-desakan demi mendapatkan tiket, hingga mendoakan timnas secara bersama-sama, seperti yang digelar di Pondok Pesantren Assidhiqiyah, Jakarta (23/12/2010) lalu. Bahkan panitia HAUL I GUS DUR DI CIGANJUR menjadwalkan nonton bareng final AFF leg ke 2, 29 Desember 2010 ini. Tentu dengan tujuan selain mengenang jasa Bapak Bangsa yang suka bola itu juga untuk memberikan dukungan kepada Timnas Garuda.

Berdoa untuk timnas memberikan gambaran bagaimana olahraga dan agama memiliki keterkaitan. Agama di satu sisi memang mendorong umatnya untuk hidup sehat, baik itu secara jasmani maupun rohani, melalui berbagai upaya, salah satunya adalah olahraga. Di sisi lain, olahraga jika diniatkan untuk tujuan yang baik juga akan berefek baik.

Rasulullah sendiri mengarahkan umat Islam untuk berolahraga. Ketika itu, olahraga yang dianjurkan adalah memanah, renang, dan berkuda. Dalam konteks sekarang, tiga bentuk olahraga itu dapat diperluas, salah satunya adalah sepak bola.

Sejauh ini belum ditemukan sumber sejarah yang mengungkap apakah sepak bola dikenal masyarakat Jazirah Arab di awal masa Islam periode Rasulullah. Padahal, seperti yang disebutkan oleh Bill Muray, salah seorang sejarawan sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi. Pada saat itu, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen.

Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut `episcuro‘, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.

FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan bahwa sepak bola lahir dari daratan Cina, yaitu berawal dari permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM. Olah raga ini saat itu dikenal dengan sebutan `tsu chu’. Di Jepang dikenal pula permainan semacam `tsu-chu‘ sekitar 500-600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Di Yunani dengan ‘episkyros‘, di Romawi (Italia) dengan `haspartum’, dan di Perancis dengan `choule‘.

Di dalam sumber ajaran Islam memang tidak dikenal olahraga sepak bola, tapi itu bukan berarti olahraga ini dilarang. Mayoritas ulama sepakat berpendapat bahwa sepakbola hukumnya boleh, selama itu tidak menimbulkan ekses-ekses negatif dan tujuan-tujuan yang tidak baik, seperti untuk menimbulkan permusuhan, pertikaian, dan peperangan.

Saat ini, justru sepak bola sering dijadikan sebagai medium mempererat persahabatan dan kerjasama antar bangsa. Sepak bola juga sering dijadikan sebagai medium kampanye anti-rasial, pesan perdamaian, dan laga amal sosial. Ini tentunya sangat baik. Tanpa menutup mata bahwa ekses negatif, tidak hanya pada sepak bola saja tapi juga yang lainnya, selalu ada.

Karena hukum asal sepak bola itu boleh, maka mendoakan para pemain sepak bola untuk tujuan kebaikan juga pada dasarnya tidak terlarang. Namun hendaknya diluruskan tidak hanya untuk kebaikan atau kepentingan duniawi saja, tapi juga ukhrawi. Dalam istilah Alquran, ‘kebaikan di dunia dan di akhirat’, bukan semata-mata kebaikan di dunia, apalagi itu sifatnya temporal atau kepentingan sesaat.

Sepak bola hanya permainan (just a game). Kalah dan menang itu biasa. Karena itu, menggelar doa bersama semata-mata hanya untuk tujuan agar timnas memenangkan permainan dan menjuarai turnamen, atau untuk kepentingan politik pragmatis, justru mereduksi fungsi doa yang bertujuan lebih besar dan luas daripada itu.

Dalam segala hal, doa memang penting. Sebagai wujud kesadaran akan adanya kekuatan di luar manusia yang lebih besar dan kuat yang diharapkan pertolongannya. Semua pencinta timnas dapat dipastikan berdoa, setidaknya berharap-harapan sendiri adalah doa-agar timnas menang. Para pemain juga berdoa. Itu semua sudah lebih dari cukup bagi timnas. Selebihnya, merealisasikan dari do’a itu dalam bentuk usaha yang maksimal untuk memenangkan pertandingan.

Wallahu a’lam.

*) Diolah dari berbagai sumber