Sedumuk Bathuk, Senyari Bumi ditohi Nganti Pati

(Persoalan hak atas tanah walau hanya sejengkal, taruhannya adalah nyawa)

Peribahasa Jawa ini menunjukkan bahwa tanah merupakan harta yang tiada terkira nilainya. Tanah, lebih berharga dari sekedar emas atau permata sekali pun. Terlebih bila tanah tersebut merupakan warisan dari nenek moyang, mereka akan menjaganya hingga akhir hayat. Di atas tanah manusia bisa mendirikan tempat tinggal, melestarikan keturunan, menjalin hubungan sosial dan menciptakan nilai-nilai kebudayaan. Selain itu tanah juga merupakan faktor produksi (ekonomi) yang penting dalam sejarah peradaban manusia. Sejak kehidupan berburu, zaman pertanian hingga era industri tanah memiliki peran vital dalam menunjang kehidupan manusia dan kegiatan produktivitasnya.

Namun fenomena belakangan berkata lain. Tak jarang satu dua orang yang terhimpit ekonomi maupun yang tergoda gemerlapnya materi, rela melepas sawah warisan mereka. Nasib sawah-sawah mereka yang kian hari kian menyempit berganti pabrik-parik yang semakin hari semakin menyesakkan dada, kian hari kian dihabisi oleh para pemodal, karena minimnya pengetahuan warga desa tentang pentingnya sawah (tanah) bagi kehidupan.

Yang pasti sawan dan kita adalah senyawa, tanpa sawah takkan ada kita, karena dari sawahlah petani menyamai bibit padi dan menuai hasilnya, dari sawah padi dibawa ke huller atau kincir dan lesung, diolah jadi beras, didistribusikan jadi beras rojelele, pandanwangi, solok, IR, ramos, raskin ke cosmos, ketiding, peti beras di rumah kita, lalu di magic com, dandang, rice cooker dan akhirnya berlabuh di meja makan rumah kita atau rumah makan, maka jadilah tenaga untuk memberi kehidupan dan makna bagi kehidupan, jadi jangan pernah lupakan sawah dan petani..tentunya!